Wednesday, February 18, 2026

Tidak pernah bertemu

0

Seberapa kuat aku meginginkanmu, tetap saja waktu tidak bisa mengizinkan temu yang telah lama aku tunggu. Aku tak pernah beruntung untuk hal - hal yang memang tidak di takdirkan untukku. 
Kita tidak pernah bisa untuk bersama, sekalipun mencoba dengan keras mempertemukan waktu untuk berdekatan. Banyak halangan dan perbedaan di antara kita, maka itu kau memang tidak bisa di dekatkan denganku. walau bagaimana caranya, kalau memang keyakinan itu ada dari awal, maka semuanya tak akan jadi halangan.
Semesta memang punya caranya sendiri, memiliki alasan kuat untuk cerita di antara kita. Dia tahu mana yang terbaik untuk hatimu maupun hatiku. 
Bahkan aku  masih ingat bagaimana kita pertama kali di hadirkan dalam sebuah percakapan, saling bertukar kabar, saling mengirim pesan sekedar bertanya bagaimana perasaanmu hari ini. Rasanya menyesakkan. Sebab, denganmu sedih dan tawaku tumpah begitu saja, cerita - cerita yang menjadi rahasiaku bisa kau dengar. Hal paling burukpun sukarela ku ceritakan. 
Mungkin hanya aku saja yang begitu. Karna beberapa tahun lalu, saat awal kita kenal kau sudah menjelaskan bagaimana kamu dan kehidupanmu, hanya itu saja yang melekat di ingatanku. Foto yang pernah kau perlihatkan denganku pun semua itu aku ingat jelas, wajahmu. Tapi untuk bertemu denganmu itu hanyalah sebuah mimpi, yang entah kapan akhirnya akan hilang. 
Aku di haruskan bersikap biasa saja sementara hatiku selalu merindukan ragamu. Jika memang kita di takdirkan bersama maka akan menemukan banyak cara untuk bersatu. Jika tidak, anggap saja kisah kita sebagai sepenggal cerita yang tidak bisa di terbitkan dalam buku apapun.
Terserah bagaimana bagimu. Kamu memang selalu punya cerita mu sendiri, yang sekarang tidak pernah ku tahu lagi.

Mungkin saja

0

"Gini ya rasanya?"

Seolah tak ingin menerima takdir yang sudah terlanjur, aku sibuk menyalahkan "rasa" yang menurutku lebih banyak tidak enaknya di banding "rasa" yang dulu se-enaknya. 

Entahlah, bahkan desah nafas panjang yang berulang-ulang ku hembus juga tidak puas menjawab pertanyaan itu sendiri. 
Kadang pertanyaan itu sudah terjawab, hanya saja hatiku belum bisa menerima.

"Mengapa terjadi?"

"Harus bagaimana?"

"Salah siapa?"

Sebenarnya, banyak keinginan yang belum kesampaian. Apa mungkin keinginan itu terlalu mustahil untuk bisa terwujud. Atau, Ekspetasiku tentang angan itu terlalu tinggi. 
Sebagai seseorang yang sudah rela pergi dari kehidupan lamanya. Anggap saja itu sekedar angan - angan, bisa juga di bilang cita - cita yang agak mustahil sekali bisa terwujud. Cita - cita dan angan - angan itu beda tipis kan ya?
Alih - alih suka menulis kisah kehidupan sendiri, aku lebih terlihat seperti  seseorang yang butuh teman ngobrol dari dekat. Teman di segala keadaan yang bisa melepaskan hiruk - pikuk beban pikiran.
Memang, manusia itu di buat pusing karna perasaanya sendiri, hatinya yang sebagian rumit tak bisa di jelaskan, sibuk menahan semuanya dari dalam.


Hangatnya selimut tak sehangat pelukan rindu dari seseorang. Selimut memang memberi rasa hangat dari dinginnya malam, tapi tak banyak kehangatan yang ku dapat dari selimut itu. 
Aku selalu merindukan kehangatan itu. Kehangatan yang sudah lama sekali tak kunjung datang.

Benarkah hidup ini sudah ada takdirnya masing - masing? 
Seseorang terlahir sudah dengan takdirnya? Apapun keadaannya sekarang sudah pasti itu suratan takdir yang tak bisa lagi di ubah?
Kalau memang begitu? Apakah merindukan seseorang yang bukan sebagai takdir itu salah?
Kalau memang benar begitu, haruskah berhenti untuk marasa rindu pada sesuatu yang tak pernah bisa datang menghampiri, mewujudkan rindu itu?

Barangkali ada saatnya yang ku namai rindu itu hilang begitu saja?
Siapkah jika tak lagi berangan - angan tentangnya? Tentang harapan yang sejak lama tertanam. Bertahun - tahun disiram agar tak tiba - tiba mati begitu saja. Selama ini sabar tak berbuah hasil. Selama ini sia - sia mengharap tumbuh menjadi sesuatu itu. Ia cuma mampu  bertahan jika di siram terus menerus dengan kasih sayang, dengan harapan.

"Sesekali pergilah, jangan perdulikan sekalipun itu membuatnya layu. Bahkan kalau ia mati, kau tak perlu menyesali buah sabarmu. Biarkan saja!

Bangun dari tempat tidurmu. Beranjak dari situ agar kau bisa meluapkan sabarmu atas apa yang selama ini sudah berhasil kau tahan. 
"Lepaskan saja!"
Tak apa, tak ada yang tahu kalau sesungguhnya hatimupun semakin lama semakin layu. Semakin kau siram kau-pun tak ingin terus hidup.  Seperti hanya menjaganya, menjaga harapan yang di buat hidup. Selama itupunlah kau tak akan pernah bisa bangun. 

Lekas bangun!
Mari sejenak sembuh dari perihnya luka sabar. Mari berdamai dengan kenyataan yang ada sekarang. Mungkin besok, atau besok - besok lagi kenyataan akan berpihak, jadi selama itu kau bisa menyatukan kembali sabarmu pelan - pelan. Tak usah terlalu berharap. Cukup jika kau melihat kenyataan itu hatimu tetap utuh. Tetap menerima kalau selama ini kau bisa "sabar"."






Tuesday, December 5, 2023

Sedikit Dialog rasa

0

Belakangan ini aku sering sekali menangis, bahkan hampir setiap hari.

Banyak hal yang terfikirkan begitu saja di benak, seolah - olah semua itu akan sangat sulit untukku kedepannya. Tak ada habisnya jika memikirkan hal yang tak seharusnya lebih dulu ku fikirkan. 

Sambil mengusap hingus yang tak berhenti keluar, kudapati wajah yang terlihat semakin menua di depan cermin, "Kenapa sekarang keadaan bisa seperti ini?"
Dulu aku santai,
Dulu se-anteng itu menjalani hari - hari,
Dulu baik - baik saja kalau ada masalah, bisa di bawa tertawa, bahkan ku bagikan ke teman dekat.
Sekarang, mata kena angin saja dijadikan alasan untuk menangis, sampai ku kira yang basah bukan lagi hidung karna hujan terus turun.

Seiring berjalannya waktu, tiba di titik ini, ada kalanya rindu masa - masa sebelum aku jadi banyak murung, sangat rindu sampai apa saja yang ku lakukan terasa salah.
Mau tidak mau, terima tidak terima, semua pilihan bukannya sudah ada suka - dukanya, ada konsekuensinya. Tak selamanya masa - masa tenang seperti dulu bisa dirasa lagi. Seperti aku yang tak pernah mengira takdir membawaku ke hari ini.

Banyak dari deretan masalalu yang tidak bisa begitu saja sembuh karna waktu, sebagian masalalu yang ku pilih untuk di ingat memang yang indah - indah saja, agar hari - hari berjalan lancar tanpa harus kembali menangis seperti saat mengingat luka. Sayangnya, aku belum begitu pintar meng-iklhaskan masalalu yang tak bisa ku terima sampai hari ini, yang kadang membuatku makin marah kala teringat.
dan, tiba - tiba saja lewat tangis aku bisa menghapusnya walau sebentar.

Tidak apa - apa bukan? 
Walau saat ini masih belum bisa sepenuhnya mengontrol perasaan, masih ada hal baik yang bisa ku miliki untuk tetap menguatkan dan membuatku tersenyum. 

Biar saja jika perlu puluhan hari, bahkan puluhan tahun untuk bisa membaik, akan ada waktunya semua luka dan sedih itu pergi untuk selamanya.