Tuesday, October 10, 2017

Ilusi dari bayang~bayang

0

~
Untukmu yang ku sebut bayangan.
Kalau suatu hari kita bertemu, aku ingin menatapmu dan katakan ini kepadamu; aku bukan penulis handal, bukan penulis novel yang ingin menceritakan kisah pribadinya ke semua orang, aku ini bukan seseorang yang senang mendramatisir keadaan sehingga wajahku terlihat seperti banyak kesedihan.


Aku perempuan yang selalu ingin menceritakan semua hal, menceritakan banyak hal, apapun yang membuat mulut ini ingin menggumam dan bergerutu tak tentu, perihal pahit, asam, dan asin kehidupan yang baru seperempat abad ku jalani. Aku menumpahkan cerita yang dikira orang lain adalah drama  dari kehidupan. 
Kehidupan yang baik dan senang ini kadang-kadang tak realistis. Kata ibuku tak baik menceritakan sedih ke orang lain, apalagi aku seorang perempuan.
Kau selalu mendengar kalimat dariku seperti; aku kenapa, aku ini apa, aku harus bagaimana, atau kenapa aku begini, atau yang paling naif sekalipun. 

Aku tahu, kadang kau bosan dengan segala kesah yang tak penting ini, nanti sewaktu - waktu kau mengabaikanku, tak perduli aku ini temanmu, kau muak dengan ceritaku, cerita yang selalu ku adukan denganmu, biar saja mudah mudahan kau tetap bisa menjaga bahagia sederhana ini, sesederhana penantian di cerita-ku. Karena aku ingin perasaan ini utuh seperti semula. Seperti aku tidak merasakan apa-apa sebelumnya. 
Jadilah nyata dari sekecil harapan dalam mimpi terakhir yang ingin ku lihat dari bayanganku, sebelum dunia berubah jadi lebih baru, dan aku gagal rengkarnasi, tak bisa menjadi adik kelasmu waktu SMA, atau sekedar jadi kerabat di tempat kerjamu sekarang, dunia akan merubahku lebih dari ini, lebih dari yang tak kau tahu perempuan macam apa aku ini.


Untukmu bayangan yang ku nantikan di suatu hari.

Kalau nanti kita di beri izin untuk bicara, aku ingin bicara banyak hal denganmu, ingin bertanya banyak hal kepadamu, tentang hidupmu yang tak ingin kau ceritakan kepadaku. Karena kau adalah bayangan dari ilusiku setiap hari.

Untukmu yang menjaga jarak baik ini. Semoga tetap meredup dengan kesendirian ditengah rindu, menepi di mata ini. Semoga aku tetap mengagumi mu tanpa alasan.
Terimakasih sudah membaca tulisanku mendengarkan ceritaku, seolah kau sedang bercerita dan mendengarkan bicaramu sendiri. Saat mengatasi perasaan dari ceritamu itu, kau tahu bagaimana rasanya?. Mungkin perasaan lega itu juga sedang ku nikmati saat ini.


Untukmu yang sedang duduk sendiri meski tak di sampingku.

Senyummu adalah matahari setengah pagi, membuat candu untuk ku nikmati setiap hari. Bila ilusi ku ini benar menurutmu, tidakkah kau selalu memberiku notifikasi setiap hari, selama kau menjadi bayangan dari ilusiku.
Dimanapun, selama kau masih sendiri, kau tak akan pernah lupa bagaimana kau memilihku jadi tahanan tawamu, bukan kurungan dari sedihmu. 
Tak ada alasan melupakanmu sebagai ilusi yang masih hidup di kepalaku. Selama kau mengingatku, aku tetap menjadikanmu alasan menulisku.
Untuk ku ingat sebagai cerita di hari tua. Saat kita juga mungkin sudah sama-sama lupa.


Untukmu yang saat ini masih hidup sebagai bayangan.

Aku tunggu, meski hitungan hari, bulan, bahkan beberapa tahun lagi. Saat aku benar-benar bersedia menemuimu, saat kau benar-benar yakin ingin bertemu denganku. Jangan menatapku dengan tatapan kau tak tahu apa-apa. Jangan menatapku seolah kau akan menyesal sudah menghabiskan seluruh tenaga mu menghibur ceritaku. Semoga Pertemuan mengakhiri cerita dari ilusi yang terus menjadikanmu sebagai bayangan, karena melihatmu adalah kenyataan dari cerita yang ingin terus ku tuliskan. 

0 komentar:

Post a Comment