Friday, October 20, 2017

Keliru

0

Semua yang di mulai, pasti akan selesai.

Harusnya sejak awal, aku tidak perlu terus terang kalau aku menyukaimu. Suka?


Deg~



Semacam getaran magnet yang menarik paksa meteor jatuh sebagai hujan. Di sebutlah Hujan Meteor. Tak ada yang bisa menghentikan fenomena ini. 
Belakangan, sudah banyak musim yang berubah, panas dingin, hujan terik, gugur semi, fenomena tetaplah fenomena yang datang nya tidak di sembarang musim.



Aku mudah sekali tersanjung.
Ku fikir aku ini cuma penulis blog yang tulisannya tidak akan dibaca oleh siapapun.
Di zaman now seperti zaman yang makin modern ini, menulis dan mengungkapkan perasaan itu bisa di tatak, lewat bbm, whatsup, facebook, dan kebanyakan kalau do'i nggak percaya, kita bakal ngungkapin perasaan lewat bigo live, atau nggak live instagram dan ngarep do'i nonton, terus bisa ngomong langsung deh disaksiin sama temen lain sambil bilang "sah" jadian!


Yeaayh.... 
Aku memanfaatkan moment ini untuk make a wish. Yess, fenomena bintang jatuh adalah, believe or not believe?
Percaya atau tidak suatu harapan akan terkabul ~uhuk, merem~
Diam - diam aku harap, bintang yang jatuh sebagai meteor itu adalah kau. Pasti akan sangat tahayul yah. Hiiks


Aku kira ini ketertarikan, ternyata hanya bentuk perhatian yang ku terima dengan nyaman. Lalu ku akui itu sebagai harapan yang hidup lagi. Namun begitu, aku sudah anggap ini sebuah kekeliruan yang ku kubur lawat semua tulisan yang sudah tersimpan, lalu tak ku tulis lagi.
Belakangan aku lebih sering sendiri, satu - satunya hal yang membuatku rindu adalah notifikasi
Aku bisa merasakan di tinggal pergi oleh kesibukan dari kamar yang sempit, dan sudah menjadi kebiasaan.
Setiap kali merasa sepi, aku sibuk mencari keramaian suara notifikasi.
Aku berbisik, hiduplah, hiduplah ...  
Muka sudah mulai kacau, aku mulai tak bisa mengatur perasaan. 
Malam ini sambil melihat pemandangan hujan meteor yang sayang dilewatkan, kuyakinkan hatiku membolak balikan perasaan, aku tak ingin kekeliruan ini berantakan.
Ketika aku mencoba menghilang, aku tetap tak tahan, jika pada kenyataannya, notifikasi darimu membuatku untuk bertahan.


Scrolling keatas, ke bawah. Tutup, buka. Menyala, lalu mati. Ada hari dimana tak ada sebuah notifikasi. Itu pertama kalinya aku marah dan langsung merasa berasalah. Padahal aku ini sedikit lebih dewasa, ah mungkin sedikit lebih tua. Azzz~


Kufikir kau sudah malas, atau tidak, anggaplah aku ini tante-tante yang masih labil dengan perasaan. Hingga suatu malam, aku kembali ingin menulis. Ada perasaan yang tiba-tiba memukulku. Betapa aku tidak seharusnya seperti ini. Kau mendampingiku sebagai ilusi.

Aku punya hak hidup lebih baru, dari hidup yang hanya membuatku terbelenggu. Aku bebas keluar kapanpun aku mau. Dan tak perlu memaksa langsung menjadi sesuatu yang baru, karena kemarin juga mengajarkanku bagaimana aku bicara sebaik ini kepadamu. Aku hanya lupa kepada perasaan yang membuatku kadang keliru.
Situasi ini "to be or not to be" berada antara "menjadi" atau "tidak menjadi" sesuatu.


Tidak ada manusia yang benar-benar tahu kapan dia mulai merasa keliru. Tiba-tiba perasaan kadang benar, kadang juga bisa salah, tergantung dimana kau merasakan dan meletakannya.
Kemudian aku memutuskan untuk membuat perasaan yang paling baru, agar aku tidak lagi takut dengan kemungkinan harapanku tidak sesuai dengan apa yang terjadi.





0 komentar:

Post a Comment