Monday, October 2, 2017

Apa kabar senja di kotamu?

0

Menahan yang tak terbendung, memendam yang harusnya berkecamuk, melerai egois dikepala. Itu tak mudah.
Banyak hal kita bincangkan setiap hari, rupa simbol emoticon mengganti mimik wajahmu bicara denganku, tentram matamu membuat kepalaku menggeleng-geleng. Tapi ada yang tak ku suka darimu, jangan coba-coba meng olok- olok ku dengan doa salah. Aku tak mau meng-amini do'amu yang tak sesuai harapku itu. Karena do'a ku; bisa menyaksikan senja tenggelam denganmu belum tentu jadi kenyataan.

Ini real, kehidupan sama perasaan memang realistis. Aku jadi rubik yang ingin menulis semua hal, semua ulasan yang sudah ku lalui, saat semua sisi terasa kacau, tak utuh, juga sempurna seperti semula, seperti kau pertama dilahirkan.
Perempuan yang sedang menulis ini adalah perempuan yang sedang menghapus sisa-sisa kemalasan. Menulis kerumitan, melerai benang demi benang yang kusut di tangan.
Berhari-hari mengasingkan diri ke tempat sepi. Tempat aman dengan semua ketenangan di dalamnya. Tidak ada pergi yang tiba-tiba. Akupun menikmati sendiri ini.

"La tahzan innallaha ma'anaa" Jangan sedih, allah masih bersama kita, selalu menemani."
Meski begitu, Aku tak pernah merasa sendiri di tempat yang sepi, kecuali, allah sudah menutup kedua bola mataku dan menempatkan ku di tempat yang paling gelap dari sisi dunia ini.
Tak ada yang tahu, kapan batas akhir waktu yang sudah di tentukan oleh-Nya. Untuk sebagian orang, ini lelucon yang tak penting, tapi kita tak pernah tahu, kapan berhenti bernafas. Di dalamnya, terselip rasa puas, karna aku sudah berhasil menuliskan sebagian cerita di tempat ini.

Barangkali benar, salah satu tujuan manusia diciptakan adalah untuk menjadi tempat sampah. Semua hal yang menimpa, menimpa saja.
Tak ada orang yang benar-benar mengenali seseorang secara penuh, bahkan mungkin orang tua dan orang paling dekat. Apa sebegitunya, bahaya perempuan yang malas dengan semua hal yang sudah pernah dialaminya?
Segala pemikiran kusut, jadi runyam. Tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Saat mendengar lagu - lagu melow, suasana hati menjadi lembut, saat mendengar lagu keras, hati memlilih bungkam, tapi fikiran semakin kacau. Bukan itu yang ku maksud, aku hanya tidak ingin larut, dan terbilang hatiku terlalu lembut.
Aku suka segala yang ku ceritakan, sayangnya wawasan ku sebagi wanita yang pas-pasan tidak begitu luas.
Lebih banyak orang yang bangga dengan pintar menunjukan jika ia lebih baik dari pada aku. Semua baik buruknya, juga kehidupannya nyaris sempurna. Aku tidak ada di bagian mimpi itu. Tolong pahami, aku ini lebih dari sederhana, sesederhana kehidupanku yang ku utarakan lewat tulisan ini. Bukan apa-apa, aku tidak ingin jari tanganku berteriak menyesal saat allah sudah berniat membuatnya tak bergerak, kaku tak bernyawa.
Hingga detik ini, aku masih wanita itu, wanita pas - pasan dari semua urusan, masih seperti ini.

Sebelumnya tak pernah ku rencanakan dan minta kepada tuhan, tapi entah; mengapa tuhan memberiku takdir sebaik sekarang ini. Pelajaran waktu lalu hampir membuat hidup ini berantakan.
Setelah basa-basi dengan malam, membaca sajak singkat mu adalah semangatku, alasan ku tersenyum dari semua resah. Mungkin karena kita baru saling mengenal, dan aku menjadikan mu topik pertama di tulisanku.
Apa artinya ini?
Tenanglah, semakin dalam aku menulis, aku tidak berniat menjebakmu dalam rasa bersalah. Bukan harapan yang ku maksud disini. Aku juga tidak bisa menjelaskan, bagaimana rasanya bisa selancar ini jariku menulis, meski masih ada kata dan kalimat yang harus aku perbaiki ulang, itu tak masalah. Terimakasih sudah membacanya.

Malam ini aku pulang kerumah, bau debu yang ku dapat dari jalan masih menempel, di tambah badan yang dingin sedikit lengket karena lupa dengan sweater ku. Lebih tepatnya sweater yang ku pakai tak lebih hangat dari pemikiranmu yang selalu menghangatkan.
Aku suka jenis kalimatmu yang terbilang rumit ku mengerti, apa karna wawasanmu di kota itu lebih luas dari pada aku disini. Bagiku itu ajaib, seajaib rasa pertemanan diatara kau dan aku saja.


Pertama, bukan langsung mengenalku, tapi mengenal tulisanku, saat itu juga mungkin kau langsung menilai bagaimana aku ini. Yaaah, aku tak tahu. Aku hanya tahu kau memuji tulisanku.

Siapa yang paling mengenal aku, dia yang mengabadikan jelas semua kebahagiaanku?
Dia yang paling jelas mendengar semua ceritaku?
Dia yang paling jelas merekam semua history ku?
Siapa yang paling mengenal aku?
Dia yang selalu ada di dekatku, atau,
Dia yang selalu hadir di imajinasiku?

Mengenalmu, menjadi bayang-bayang dalam tulisan.
Bisa jadi, apa yang ku tulis seenaknya saja di blog ini adalah caraku menyampaikan perihal senang.
Seperti aku senang dengan suara hujan.
Entah kenapa, hujan selalu menarik dimataku. Ribuan rintik yang jatuh dari langit seperti ribuan masalah yang perlahan ku buang. Seperti perasaan yang selalu baru saat aku tidak lagi mengingat masalalu.  Namun itu tetap menjadi menu yang hadir setiap hari.

Beginilah nasibku, yang sebagian sudah ku cam kan dikepala, tak semua harapan tinggi itu bisa terwujud semudah membalikan telapak tangan. Belajarlah paham, tak semua yang kau pikirkan itu realistis.
Aku resah, ku putar lagu yang membuatku tenang, berkali-kali. Entah kenapa, kesedihan lebih tebal dari tawaku ku yang buyar saat mengingatmu. aah, mungkin yang sering kau sebut "baper", itu mahluk yang memang sering bersemayam di diriku. Tak tahu aku kapan dia membuntutiku.
AzzzZZ ..... aku berusaha akan membunuhnya!!

Dikit demi sedikit aku mulai rajin menabung harapan lagi. Setelah harapan yang sudah lama mati. Mungkin kali ini bisa hidup kembali. 
Betapa keras aku mengusahakan bertahan. Tidak adil bila ini hanya separuh dari keinginanku. Lantas aku memintamu untuk diam saja? 
Jika benar, mungkin kenyataan bertemu denganmu dampaknya akan lebih buruk dari harapan saat ini.
Aku memilih tidak ingin menemui saja!

Kenapa aku bicara seperti ini?
Karena memulai menanam harapan lagi, adalah titik awal hadir kembali.
Aku takut udara disana akan mengubahmu. Aku takut senja tak ingin kau lihat lagi, membuatmu tak ingin menatap langit sore. Karena sebagian bias cahaya itu adalah aku. Kau takut matamu sakit, sesakit nasihatmu yang kadang juga meyakitkanku. Aku juga takut saat kita bertemu nanti kita bukan orang yang mempercayai hal yang sama lagi.


0 komentar:

Post a Comment