Cahaya senja yang semakin remang melumuri permukaan koridor yang sudah sepi. Gelap mulai merambat menutup langit.
Aku berlari secepat cepatnya agar aku sempat mengisi koridor ini dengan mimpi dan doa'doa.
Aku berhenti di tengah koridor, antara barisan sisa-sisa orang yang masih ingin menunggu menit hadir ke tempat ini.
Sinar matahari senja merangkul tubuh dengan rawan membuat tubuh yang agak rambun ini di rambati perasaan hangat. Sementara desauan angin memainkan pinggiran hijab dipermukaan wajah.
Bola mataku hilir mudik melihat jalanan rel yang tak ada hentakan suara kereta lewat. Rupanya, aku menjadi salah satu dari sekian orang yang menunggu datangnya rindu, tempat dimana ingin bertemu kembali dengan rindu, pernah di antar, pernah ditemui, ada juga belum pernah bertemu sama sekali, aku mecoba keberuntungan di tengah koridor ini. Bisakah semua kemungkinan yang ada disini, kau akan menemuiku, diantara manusia yang hadir menunggu rindu disini.
Aku menenangkan diri menjauhi hiuk riuk kalimat yang ku dengar di telinga kanan dan kiri. Aku tak mengerti sedang bicara apa mereka, bahkan sejak lama aku belum mendengar suara deru kereta api yang mendekat. Lalu...
Dimana rindu..??
Dimana rindu..??
Sesekali aku membuka gambar hasil lukisan tanganku, yang kulukis dengan perasaan senang dengan mimik muka yang begitu datar.
Seberapa bagusnya gambar itu, aku tak begitu paham, merasa ada nyawa di dalamnya.
Tak ada sama nya dengan wajah-wajah baru yang ku temui di koridor ini, ketempat paling jauh aku melihat, mengira - ngira siapa wajah paling mirip di antara banyaknya manusia disini, hasilnya nihil.
Aku hampir merasa putus asa, dari semua rindu yang sudah berhasil bertemu dan kembali pulang ke tempatnya, aku masih setia merindukan bayangan dari kenyataan yang belum pernah ku temui di kehidupan.
Untuk yang kesekian kalinya, aku mengibas rasa penasaran, masih di tengah manusia yang pelan-pelan hilang dari koridor ini, aku memilih bertahan. Matamu di gambar ini menyuruhku untuk menunggumu di sini, senyummu di lukisan ini menyuruhku untuk tetap sabar, agar kelak kau akan berjabat tangan dengan nyawa yang menghantarkan mu dengan kerinduan.
Langit berganti gelap, lampu pinggiran jalan disepanjang koridor bewarna kuning ke emasan membuat kantuk tak terlihat, mengelabuhi pandangan dari wajah yang tak begitu putih, berwarna sawo matang, beda tipis dengan warna kulitku yang agak kecoklatan.
Aku merasa takut, jika nanti lampu-lampu penerang koridor ini akan mati tiba-tiba, pecah tiba-tiba, dan aku tak bisa menemukan rindu di tempat ini. Angin begitu kencang, menusuk tubuh bersamaan dengan debu tipis yang lalu lalang bertebaran.
Ingatlah lagi, aku ingin melihatmu dari pintu kereta itu, saat suara klakson kereta sudah tak berbunyi, aku menunggu di barisan paling depan. Melihatmu adalah satu keinginan. Setelahnya, ku biarkan tubuh ini terhempas empuk kedalam pelukan dingin jika datang kemungkinan lain.
Jika aku hanya kata, anehnya dengan mu bisa jadi kalimat, tersusun di tiap paragrafnya.
Jika kau hanya sebagai kereta, maka tempat ini adalah tempat paling aman mendaratkan kerinduan.
Walau koridor ini sudah mulai sepi dan kereta sudah tak lalu lalang lagi, aku selalu berharap menunggu kemungkinan disini.
Bukannya aku seolah bodoh menunggumu disini, merasa nyaman disini, lalu menunggumu berada di tempat yang sama.
Ingatlah, rindu yang membelenggu ini, semakin menderu, tidak akan terhenti tanpa adanya kata "temu" dariku. Aku yang selalu menantikan bertemu denganmu.
0 komentar:
Post a Comment