Terimakasih untuk kesempatan mengenalmu.
Terimakasih karena menjadi temanku.
Terimakasih karena telah bersedia menghiburku.
Aku mengenalmu saat ini dan akan menjadi teman mu sampai nanti.
Kita hanya punya saat ini dan seterusnya, selamanya!
Tetaplah menjadi temanku, agar tak ada yang bisa menggangguku sebaik kau menggangguku, sebaik nasihatmu, sebaik senyummu, sebaik cara mu jadi motivatorku.
Biarlah waktu ku tersita sia-sia, biar umurku akan menua, namun jangan biarkan kita mengukir kenangan dalam luka.
Pertemanan ini masih sama seperti kita belum saling mengenal sebelumnya.
Ku jadikan kau tamu rahasia, menempati setiap sudut ruang diantara kita.
Kita cerita yang ditakdirkan semesta.
Aku adalah temanmu yang tak pernah kau lupakan dari kesibukanmu.
Akuilah aku sama dengamu, menyisakan butiran debu-debu rindu yang tak sempat di bawa.
Sepuluh atau lima puluh tahun lagi, ingatlah hari ini.
Jika suatu saat kita kembali bertemu, biarkan kuranganku jadi pemanis untuk senyummu, melengkapi satu dari kekurangan yang ada pada diriku.
Ingatlah tuhan tidak selalu menjanjikan langit akan selalu biru, bunga selalu mekar, matahari selalu bersinar. Tapi menurutku, tuhan tak pernah salah menemukan kita dikehidupan.
Aku sering merasa kamu tiba-tiba akan pergi, tiba-tiba kamu lari.
Mungkin sudah bosan begini.
Jika benar nanti kita sudah tak begini, tak seperti hari ini, tolong jangan cepat lupakan cerita ini.
Aku selalu menginginkanmu memberiku jawaban tanpa kuberi pertanyaan.
Tapi selama ini aku selalu menduluimu mengadukan kegelisahan.
Kamu selalu pintar dalam menerka, aku selalu berharap ilusi dikepala ini adalah tanganmu.
Karena kamu selalu memberiku jeda menghirup nafas sampai lega.
Sampai aku bertahan dari semua kekalahan.
Semesta tidak memberikan dugaan-dugaan yang salah, semesta memberikan kita kesempatan untuk berfikir atas kejadian yang terjadi di hidup ini.
Kemungkinan tidak hanya datang sesekali, tetapi akan punya cara sendiri untuk menarik ku bertemu dengan kemungkinan yang lain.
Tak usah khawatir tentang ketidak pastian, karena sesuatu yang pasti juga belum tentu bisa kau lerai dengan pikiran matang.
Semenjak senang menghapus dan menguras isi kepala aku jadi lebih terbuka denganmu, menyimpulkan bentuk senyumku, walau hanya senyum kecil.
entahlah, aku menulis sebagai obat penenangku, sekaligus meringkas semua perihal ceritaku setiap hari.
Aku menganggapmu sebagai warna; adalah terang dari gelap, menjadi indah dari suram, mengenal ikhlas dari kekurangan.
Terimakasih untuk tidak cepat pergi dari sini, di tepi hati yang masih sepi.
♥♥♥ Inisekedarcerita
Wednesday, August 23, 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment