Setengah jam yang lalu, terakhir kali aku membaca chatmu!!
Tak ada suara lagi, tak berdering lagi.
Selang beberapa hari aku memberimu waktu untuk meredam keadaan buruk.
Menawar waktu baru agar keadaan kembali pulih!
Aku seperti sudah lama bertemu denganmu di suatu tempat, ditempat itulah kita mebicarakan hal tak penting, gurauan hambar, bahkan lelucon yang menyimpulkan senyum sempit. Semua omelanku menjaga peran sebagai seseorang yang periang.
Di alam yg sama kita bicara tentang banyak hal, namun kebanyakan aku menceritakan bagaimana buruknya kehidupan diriku. Ku fikir kau akan ikut membuli, tapi entengnya mulutmu bilang jika aku terlalu merendahkan diri.
Tak kusudahi senyumku tadi, mendengar itu seperti tertampar kenyataan baik yg langsung memenjarakan perasaanku. Apa artinya itu?
Seseorang sepertiku sangat luwes mencium harapan bisa bertemu di tempat yang ramai, karna mungkin kamu bisa pura-pura mencariku, pura-pura salah orang ketika bertemu agar kamu bisa cepat-cepat mengambil keputusan, tetap melihatku atau pergi tanpa memberi senyum seperti foto pertamamu di handphoneku.
Tak perduli seberapa anehnya orang sepertiku, seberapa cantik perempuan yang menjadi ibumu itu, aku juga tak perduli walau cuma bisa masak pisang goreng dengan toping susu keju, tak perduli dari sekian kota yang menemukanku dengan begitu banyak orang baru, di satu kota jugalah tertabur harap bisa bertemu denganmu, teman notifikasi.
✏………
Tak ada suara lagi, tak berdering lagi.
Selang beberapa hari aku memberimu waktu untuk meredam keadaan buruk.
Menawar waktu baru agar keadaan kembali pulih!
Aku seperti sudah lama bertemu denganmu di suatu tempat, ditempat itulah kita mebicarakan hal tak penting, gurauan hambar, bahkan lelucon yang menyimpulkan senyum sempit. Semua omelanku menjaga peran sebagai seseorang yang periang.
Di alam yg sama kita bicara tentang banyak hal, namun kebanyakan aku menceritakan bagaimana buruknya kehidupan diriku. Ku fikir kau akan ikut membuli, tapi entengnya mulutmu bilang jika aku terlalu merendahkan diri.
Tak kusudahi senyumku tadi, mendengar itu seperti tertampar kenyataan baik yg langsung memenjarakan perasaanku. Apa artinya itu?
Seseorang sepertiku sangat luwes mencium harapan bisa bertemu di tempat yang ramai, karna mungkin kamu bisa pura-pura mencariku, pura-pura salah orang ketika bertemu agar kamu bisa cepat-cepat mengambil keputusan, tetap melihatku atau pergi tanpa memberi senyum seperti foto pertamamu di handphoneku.
Tak perduli seberapa anehnya orang sepertiku, seberapa cantik perempuan yang menjadi ibumu itu, aku juga tak perduli walau cuma bisa masak pisang goreng dengan toping susu keju, tak perduli dari sekian kota yang menemukanku dengan begitu banyak orang baru, di satu kota jugalah tertabur harap bisa bertemu denganmu, teman notifikasi.
✏………
Aku memberanikan diri mengamatimu secara dekat, entah apa maksudmu, membiarkanku memandang keningmu, alismu tebalmu, juga hidung indahmu itu. Biar kau tak mengubrisku, berdiri di dekatmu saja bibirku sudah bisa tersenyum lebar. "ehmmm, seperti de javu"
Tetaplah seperti itu, aku sedang berkata jujur, aku mengagumimu dari sini. meski aku tak tahu alasannya aku juga berfikir mengapa setelah mengenalmu aku mulai sesibuk ini melihat jemariku, sesibuk ini ingin berteman denganmu.
Dag-dig-dug bunyi detak jantungku, aku bersikap tak siap jika tiba-tiba bertemu denganmu. Tapi bagiku itu mustahil, sebab tak mudah melibatkanmu ke dalam anganku, menjadikanmu sebagai bayangan yang mengerjar barisan tiap mimpiku. Aku ini manusia yang senang berfikir aneh, berfikir tak mungkin, tapi aku selalu menginginkan rasa ini, rasa yang tertuang ke dalam tiap-tiap paragraf tulisan, sempurna menjadi kalimat indah.
Lewat directmassage akun sosial aku menjadi teman barumu. Kau tahu? bagaimana reaksi pertama melihat wajahmu di handphoneku, aaazz aku bagai padi yang semakin berisi semakin merunduk, tak menyangka, pribadiku yang sekedar menulis postingan blog bisa membuatmu ingin berteman denganku. ya; aku mengerti, kau mampu membaca sepi dari tulisan - tulisanku, tapi sebenarnya aku lebih dari sekedar sepi.
Aku sudah tak apa-apa sekarang, aku lebih dari cukup merasakan kesenangan ini meski dari jarak jauh. Dulu aku pernah di dekatkan, namun percayalah, sedekat - dekatnya jarak yang kita ingin, lebih besar rindu berjarak denganmu. Jarak jauh ini membuat angan hidup lagi, angan yang sudah lama mati.
Aku bicara di hadapanmu, meluangkan waktu untuk sekedar tersenyum memandang bibir manismu. Tiap detiknya, sesekali aku melirik alismu. entahlah, semua terlihat natural, tanpa di buat-buat seperti detak jantungku yang tak karuan.
Hay, Terimakasih membuatku merasa beruntung. Terimakasih untuk selalu menemuiku atas rindu yang tak pernah rampung. Percayalah, kita adalah keberuntungan yang baru di pertemukan karena satu alasan.
Aku bukan siapa-siapamu, kau bukan siapa-siapaku, karenanya, bebaslah datang kepadaku, ceritakan seluruh gundah disetiap penghabisan harimu bila kau perlu. Tenanglah, aku adalah seseorang yang bisa merahasiakan bagaimana kau. Barangkali seseorang disekitarmu adalah temanmu, tapi bagaimana denganku, aku juga temanmu yang sedikit memaksamu mengakui itu (dan masih) menjadi temanmu apapun alasanmu. Karena takdir sudah menemukanmu untuk menjadi pembaca disetiap keluh, juga senangku.
Tetaplah seperti itu, aku sedang berkata jujur, aku mengagumimu dari sini. meski aku tak tahu alasannya aku juga berfikir mengapa setelah mengenalmu aku mulai sesibuk ini melihat jemariku, sesibuk ini ingin berteman denganmu.
Dag-dig-dug bunyi detak jantungku, aku bersikap tak siap jika tiba-tiba bertemu denganmu. Tapi bagiku itu mustahil, sebab tak mudah melibatkanmu ke dalam anganku, menjadikanmu sebagai bayangan yang mengerjar barisan tiap mimpiku. Aku ini manusia yang senang berfikir aneh, berfikir tak mungkin, tapi aku selalu menginginkan rasa ini, rasa yang tertuang ke dalam tiap-tiap paragraf tulisan, sempurna menjadi kalimat indah.
Lewat directmassage akun sosial aku menjadi teman barumu. Kau tahu? bagaimana reaksi pertama melihat wajahmu di handphoneku, aaazz aku bagai padi yang semakin berisi semakin merunduk, tak menyangka, pribadiku yang sekedar menulis postingan blog bisa membuatmu ingin berteman denganku. ya; aku mengerti, kau mampu membaca sepi dari tulisan - tulisanku, tapi sebenarnya aku lebih dari sekedar sepi.
Aku sudah tak apa-apa sekarang, aku lebih dari cukup merasakan kesenangan ini meski dari jarak jauh. Dulu aku pernah di dekatkan, namun percayalah, sedekat - dekatnya jarak yang kita ingin, lebih besar rindu berjarak denganmu. Jarak jauh ini membuat angan hidup lagi, angan yang sudah lama mati.
Aku bicara di hadapanmu, meluangkan waktu untuk sekedar tersenyum memandang bibir manismu. Tiap detiknya, sesekali aku melirik alismu. entahlah, semua terlihat natural, tanpa di buat-buat seperti detak jantungku yang tak karuan.
Hay, Terimakasih membuatku merasa beruntung. Terimakasih untuk selalu menemuiku atas rindu yang tak pernah rampung. Percayalah, kita adalah keberuntungan yang baru di pertemukan karena satu alasan.
Aku bukan siapa-siapamu, kau bukan siapa-siapaku, karenanya, bebaslah datang kepadaku, ceritakan seluruh gundah disetiap penghabisan harimu bila kau perlu. Tenanglah, aku adalah seseorang yang bisa merahasiakan bagaimana kau. Barangkali seseorang disekitarmu adalah temanmu, tapi bagaimana denganku, aku juga temanmu yang sedikit memaksamu mengakui itu (dan masih) menjadi temanmu apapun alasanmu. Karena takdir sudah menemukanmu untuk menjadi pembaca disetiap keluh, juga senangku.
0 komentar:
Post a Comment