Aku, cewek yang nggak begitu suka kerjaan cewek banget, nggak begitu suka dandanan kayak cewek banget, nggak begitu sering ngerumpi bareng cewek-cewek banget, et... maksudku mungkin karna aku nggak Pede deket cewek-cewek cantik kali ya, muka aku standar banget mas... coba deh tanya, mirip siapa?? *malumaluingitu* hiiks
Jadi di blog kali ini, aku hanya ingin sekedar cerita tentang bagaimana Aku, Gunung Kaba dengan sederet cerita baru.
Gunung dengan ketinggian 1.938 m dpl ini, menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Puncak gunung ini dihiasi dengan dua buah kawah yang masing - masing bewarna hijau dan putih kecoklatan. Kawah besar dengan ketinggian 1.700 m dari permukaan laut yang menyuguhkan pemandangan soo sweet, alias ajiiib banget bro kalo kamu ngerasin nyatu sama alam. Terdapat dua buah jalur yang dapat di tempuh untuk mencapai puncak. Jalur pertama menyuguhkan pemandangan hutan lebat yang penuh semak belukar dengan jurang di kanan kirinya, duuh sereeem yak, kita bisa trekking, sedangkan jalur yang lain sudah di keraskan dengan menggunakan aspal, hanya bisa di lalui dengan menggunakan kendaraan roda dua saja, untuk waktu tempuh dari pos pendakian menuju puncak gunung kira-kira lebih kurang 2-3 jam lewat jalur aspal, dan 3-4 jam jika lewat jalan hutan.
Dan aku bersama tim memilih lewat jalan hutan, berharap ketemu pangeran. ~skip~
Mulanya, ini bukan rencana awal buat naik tanpa perlengkapan yang komplit, sekomplit bakso di warung mang Selamet. Tanpa pikir panjang aku langsung ikut rombongan pergi, ke tempat trip yang akan jadi perjalanan kami selama kurang lebih tiga hari. Jumlah kami sepuluh orang, sebut saja ini liburan akhir lebaran, karna setelah hari minggu, keesokan hari nya, rutinitas kerjaan sudah menanti.
Let's get started together.....!!!
Mendaki gunung lewati lembah...
Sungai mengalir indah ke samudra...
Bersama teman bertualang...
Berpetualang sih iya, tapi kalau ngelewati lembah sama samudera kayaknya belom ada deh cowok yang begitu banget ke aku. Huuu *nepokjidat*
Sebelum mendaki, ada baiknya, jika kita berdo'a untuk keselamatan sampai ke puncak gunung, sekalian berdoa untuk keselamatan, tak lupa aku selalu bersyukur atas nikmat tuhan yang sudah kasih wajah cakep diantara temen-temen cowok, cantik sih nggak, tapi nggak jelek-jelek banget juga, alhamdulillah. Berdo'a ke alam semesta minta ketemu jodoh juga, ciee "Jomblo Ngenes". emang ya, cewek tu ribet banget, banyak mau nya.
Saat trekking, fikirku sebutan bukit tidak begitu tinggi, beda dari gunung pada umumnya, begitu susah dan trek nya berlika-liku. Hampir sama, treknya menanjak, turun, licin, basah, belukar, semak,
yang ada di benakku entah, selama di gunung Kaba bakal mati atau saingan laper sama tupai hutan?
Seperempat pendakian, jalan sudah menanjak, untungnya cuaca di sepertengah hari mendukung perjalanan kami, sehingga aku tak begitu merasakan dahaga yang mencekik tenggorokanku. aku jarang sekali minum, padahal aku sering merasa haus. Entah mengapa, saat aku berjalan mengitari hutan di alam ciptaan tuhan yang indah ini, aku merasa nafas ku begitu bebas, seolah aku mendapat ruang yang sangat luas, menghamburkan seluruh fikiran yang menjadi beban pelan-pelan hilang. aku juga seperti menangis bersyukur karna di antara teman-teman ku yang lain, aku beruntung mendapatkan kesempatan mendaki tempat yang sering di ceritakan teman-teman ku yang sudah sering kali mendaki gunung diluar sana.
Aku tertinggal di barisan paling belakang, meninggalkan jejak tapak kaki ditanah basah, jika sesekali aku sempat menoleh ke belakang aku hampir nyaris tersenyum, karena selama udara masih lembab basahi tanah, jejak ku tak kan hilang secepat menapak di tanah yang kering. Selama hati ini memilih baik, masih akan ada kesempatan untuk menjadi seseorang yang lebih dari baik, dari masalalu. huuuuff.... disepanjang jalan, kerjaanku banyak mengilustrasikan apa-apa yang tiba saja ada dalam fikiranku, seperti aku melihat daun, ranting, pohon, air, tanah, kupu-kupu ke dalam bentuk kata dalam hati. Kata mutiara, seperti kupu-kupu "Kau mampu hinggap ke semua jenis tanaman bunga yang paling indah di hutan ini, tapi kau tetap memilih dan tahu kemana tempat paling nyaman menemukan sari". Mungkin, obsesiku ingin jadi penulis novel kumat lagi. Laaah apaan coba -__- !!
Jika kamu menemukan tulisan di blog ini, tolong segera lapor polisi, azzzzztt.. sorry aku ralat. Jika kamu sudah menemukan tulisan ku ini, maka kamu akan tahu; apa yang kamu baca adalah apa yang tidak aku ceritakan.
Kau menyapaku "Hai". Orang baru secara tak langsung memperhatikan ku diam-diam, juga saat fikirnya mungkin lokasi bisa lebih mendekatkan jarak, "diantara kita", sedekat alam dengan sang pencipta.
Aku tak pernah mengundangmu masuk ke dalam tulisan ini, tapi jari-jariku sudah seperti kepanasan di atas keyboard leptop setiap pagi. Bagiku, menulis adalah kesempatan yang tak bisa datang sewaktu-waktu pemikiran bercampur dengan ide, lalu terealisasi menjadi paragraf. Penulis seperti dee lestari (Penulis novel Perahu Kertas) yang menginspirasi tanganku menulis juga tak tahu aku ini siapa, dan kenapa aku terinspirasi dari film Perahu Kertas miliknya itu, aah... aku senang bergurau, suka sekali mengada-ada yang tak pernah ada.
Matahari sudah lama tenggelam, karena malam kita mulai dekat, seperti kedekatan bersama teman yang lain, tertawa, cerita, teriak, menyanyi, bicara, semua melebur jadi satu. Celotehan tak penting pecahkan suasana.
Ku lihat, kau sama seperti yang lain, mungkin alis tebalmu sedikit mencuri perhatianku dari lamunan.
Aku melupakan semua perasaan, meninggalkan semua cerita yang membuat ku muak di tempat asal sebelum aku pergi kesini,lalu dekat denganmu, sebelum akhirnya kita semua sama-sama tiba di tempat yang sama, dan kita berkeinginan mendaki puncak Kaba. Pelan-pelan, nafasku terengah, seperti memekik ingatan yang sekilas teringat disela langkah ku berjalan antara ranting-ranting patah, itu memukul kepalaku. Aku tak suka ingatan ini, sangat tak suka teringat ini (dengungku lewat hati ). Tak banyak para pendaki yang lewat mengerti mimik mukaku saat berpapasan, mengapa alis kiriku naik dan aku menekan rahang bawah bibirku untuk menyembunyikannya. Sungguh, Jika benar kenyataannya aku adalah cewek cantik, muka ku tak akan setegang patrick. Pantat ku tak akan terasa berat untuk mulai pendakian lagi.
Rest...
Aku berkaca, fikirku sekarang mukaku lebih mirip spongengbob yang murah senyum, mencoba mencairkan suasana kedekatan di antara aku, kau dan trek gunung Kaba. Kelihatannya, mereka tak perduli, bagaimana hausnya aku, tapi pertanyaanmu, "Apa kau masih kuat untuk berjalan?" balasku menggangguk. The power of Love, seperti sengatan petir tak berbunyi dari dalam diriku tiba-tiba terasa. shit, sesimpel ini?. aaa, aku ini terlalu lebay menyikapi!"bergumam" lalu ku buang jauh-jauh pemikiran itu.
Yang ku takuti hanya satu; Ketika malam pergi, aku mulai terlelap, dan lelap menyadarkanku jika lebih dekat denganmu hanyalah sebuah bunga tidur. Mendadak aku kepikiran mengenai; bagaimana waktu membawa kita tujuh hari kedepan?
Karena sekarang kau memberiku tugas untuk mengendalikan perasaan yang sangat tiba-tiba ini. Nyatanya, kamu hanya perlu membuatku berhenti tersenyum. Tersenyum dari semua hal yang ku sukai darimu diatas gunung ini. semua hal yang perlahan aku tahu. Dan Kita akan menyadari betapa tak terasanya waktu berlalu. Kecemasan kita pada perasaan yang mungkin segera tumbuh.
Kadang-kadang aku selalu mengira; siapa tahu kau menginginkanku mencarimu, tapi mungkin aku terlalu takut jika aku salah. Kita adalah kedua orang dengan keentahan yang lucu. Kita saling membebaskan, namun disisi lain juga saling merindukan. Rindu untuk diakui, dianggap pernah hadir dalam hidupmu.
Aku tak mampu memutuskan mana yang lebih dingin, sisa-sisa kabut di puncak gunung Kaba atau sisa-sisa dari perasaan yang tertinggal?
Di hari kedatanganmu, adalah hari dimana aku percaya, matahari pagi ada sinarnya dan kilaunya ketemukan pada matamu. Di bukit Kaba di bulan Juli tersisa kertas kosong yang tak sempat ku tulis apa-apa, sebab kata dan cinta terpancar dari terbitnya sunrise yang berlabuh ke hatiku. Juga aku tak mampu menjelma menjadi awan diatas kawah yang patut kau sebut indah. Sejak itu, dingin yang hampir membunuhku tak lagi terasa, karena hangat genggam tanganmu sudah menetralisir semua jenis perasaanku. Aku kembali kuat, sebab aku juga sama sepertimu, telah jatuh pada hati di tempat yang sama. Aku ingin jatuh cinta tanpa dipaksa, tanpa terpaksa tanpa alasan yang dibuat-buat.
Dihari saat kita sudah ingin meninggalkan ketenangan, aku cuma memastikan perasaan ini benar atau salah. Kita mengayuh kaki menuruni gunung Kaba, diperlukan tenaga ekstra untuk sekedar berlari cepat, karena turunan di trek ini, smuanya terlihat curam namun juga tak begitu sulit untuk dilewati. Lagi-lagi jantungku semakin berdetak, aku fikir ini karna aku lelah, tangan kanan ku elus-eluskan ke dada bagian kiri, menenangkan perasaan yang tak bisa disembunyikan. Eh, tangan kiri ku kemana? hampir saja aku histeris, mendapati tangan kiriku tak terasa, tak lama aku berfikir, terang saja kenapa jantungku berdetak cepat. Kehangatan dari genggaman tanganmu membuat aliran darahku mengalir deras. Lalu aku bernafas lega, aku tak khawatir jika tangan kiriku hilang ke tempat yang benar.
Disepanjang trek turun, kita adalah sepasang kaki yang tertinggal jauh dari kaki yang lain, entah karena baju kotor di dalam keril terasa berat atau karena bokongku yang terasa berat. Nyaris aku kehabisan tenaga.
Aku anggap, semesta sudah mengatur pertemuan kita. Terlebih lagi aku tak percaya dengan semua kebetulan, aku lebih percaya pertemuan ini disebut pertemuan dadakan. Masing-masing dari kita sudah punya garis kehidupan yang digambarkan, ada yang bernyali mengungkapkan, namun ada yang diam - diam hanya bisa memendam.
Dalam teduh aku berharap kau adalah seseorang yang selalu kesepian hingga akhirnya kau memutuskan untuk pergi ke gunung Kaba bertemu dengan seorang yang suka sekali dengan keramaian di tengah sepi, agar satu sama lain bisa saling melengkapi.
Kalau kita di kasih kesempatan, terus tiba-tiba kesempatan itu kepaksa harus di lewatkan, bukan berarti kita tidak pantas menerimanya. Kita hanya perlu berlapang dada jika sewaktu-waktu kenyataan lebih pahit dari pada kopi tanpa karamel.
Malam kembali jadi penengah diantara pertemuan dan perpisahan. Menutup cerita bersama gunung Kaba yang sudah jauh kita tinggalkan. Aaaah...aku belum ingin pulang dari liburan, disini, fikiranku sering tak karuan. Sebetulnya butuh teguran, karena semua ini adalah bagian dari rasa terhadap tuhan. "Aku kurang bersyukur" semestinya, cukuplah dengan berterimakasih di bagian-bagian kecil, akan membuat mu tenang dengan segala yang di ujikan.
Beeeeep, pintu mobil yang ku dorong terbuka, kaki ku turun dengan lemas, tenaga sudah terkuras dari trek turun sampai perjalanan ber-jam lamanya dari kota Bengkulu.
Muka ku kusut, selain karna cuaca udara, mataku bangun-tidur disampingmu, membungkus sisa kenangan yang sudah kau buat selama tiga hari bersamaku.
"Terimakasih sudah jadi bagian dari kami ikut petualangan ini, kami pulang, lekas istirahat dari lelahnya mendaki", DAMN... senyum macam apa itu?. Kali ini, hidung ku tak bisa lagi di tutup tutupi, kembang kempes ketika aku merasa salah tingkah mengakhiri pertemuan. Walau sebenarnya sudah sering sekali bertemu dengan teman-teman yang lain, namun bertemu dengan mu adalah tak biasa, aku merasa kita tidak akan sedekat kedekatan ku dengan mu di atas gunung Kaba, tak akan sebaik sapaanmu di atas puncak, tak akan se aneh bibirmu yang sering kau mainkan, tak se aneh alismu yang jadi pusat perhatianku di sela-sela kesempatan. Oops, ini berakhir, tersisa puing-puing rindu tak beraturan. Sama dengan perasaan sebelumnya, apa perasaan ini tetap sama setelah seminggu kedepan?
Entahlah... Kalian satu persatu kembali naik ke mobil dan pergi begitu saja meninggalkanku.
:)
One week later....
Sayangnya aku pelupa, lupa satu hal menduga saat pertama mengenalmu, sudah mengira sebelum aku menempatkan perasaanku!
Dibagian ini, aku merasa selalu kalah. Kalah dari masalalu yang masih mencekik, kerap kali aku mencoba melepasnya kuat-kuat. Mungkin saja benar, atau hanya ketakutanku? Nyaliku berkurang, untuk sekedar mengakui rindu kepadamu. Biar saja aku memilih bungkam, sebelum lagi-lagi kenyataan buruk sudah di depanku.
Namun semakin hari, semakin dekat denganmu buatku senang. Ku tepis perasaan yang datang itu. Aku mengotori fikiran dengan semua ketidak pastian buruk, agar aku tidak begitu lancang untuk mengakui perasaan yang sedang membara ini.
"Mencari sebaris keberanian...."
Aku merebahkan punggung ke sofa panjang warna coklat yang ada di ruang tamu, menarik nafas dengan seksama, menetralisir fikiranku dengan sederet lagu milik Maudy Ayunda, lagi-lagi inspirasi menulisku. Entah mengapa lagu "Perahu Kertas" sangat membekas di ingatanku. Mungkin karena itu adalah film pertama yang ku kenal di bioskop. hiiiiks...
Dan aku bersama tim memilih lewat jalan hutan, berharap ketemu pangeran. ~skip~
Mulanya, ini bukan rencana awal buat naik tanpa perlengkapan yang komplit, sekomplit bakso di warung mang Selamet. Tanpa pikir panjang aku langsung ikut rombongan pergi, ke tempat trip yang akan jadi perjalanan kami selama kurang lebih tiga hari. Jumlah kami sepuluh orang, sebut saja ini liburan akhir lebaran, karna setelah hari minggu, keesokan hari nya, rutinitas kerjaan sudah menanti.
Let's get started together.....!!!
Mendaki gunung lewati lembah...
Sungai mengalir indah ke samudra...
Bersama teman bertualang...
Berpetualang sih iya, tapi kalau ngelewati lembah sama samudera kayaknya belom ada deh cowok yang begitu banget ke aku. Huuu *nepokjidat*
Sebelum mendaki, ada baiknya, jika kita berdo'a untuk keselamatan sampai ke puncak gunung, sekalian berdoa untuk keselamatan, tak lupa aku selalu bersyukur atas nikmat tuhan yang sudah kasih wajah cakep diantara temen-temen cowok, cantik sih nggak, tapi nggak jelek-jelek banget juga, alhamdulillah. Berdo'a ke alam semesta minta ketemu jodoh juga, ciee "Jomblo Ngenes". emang ya, cewek tu ribet banget, banyak mau nya.
Saat trekking, fikirku sebutan bukit tidak begitu tinggi, beda dari gunung pada umumnya, begitu susah dan trek nya berlika-liku. Hampir sama, treknya menanjak, turun, licin, basah, belukar, semak,
yang ada di benakku entah, selama di gunung Kaba bakal mati atau saingan laper sama tupai hutan?
Seperempat pendakian, jalan sudah menanjak, untungnya cuaca di sepertengah hari mendukung perjalanan kami, sehingga aku tak begitu merasakan dahaga yang mencekik tenggorokanku. aku jarang sekali minum, padahal aku sering merasa haus. Entah mengapa, saat aku berjalan mengitari hutan di alam ciptaan tuhan yang indah ini, aku merasa nafas ku begitu bebas, seolah aku mendapat ruang yang sangat luas, menghamburkan seluruh fikiran yang menjadi beban pelan-pelan hilang. aku juga seperti menangis bersyukur karna di antara teman-teman ku yang lain, aku beruntung mendapatkan kesempatan mendaki tempat yang sering di ceritakan teman-teman ku yang sudah sering kali mendaki gunung diluar sana.
Aku tertinggal di barisan paling belakang, meninggalkan jejak tapak kaki ditanah basah, jika sesekali aku sempat menoleh ke belakang aku hampir nyaris tersenyum, karena selama udara masih lembab basahi tanah, jejak ku tak kan hilang secepat menapak di tanah yang kering. Selama hati ini memilih baik, masih akan ada kesempatan untuk menjadi seseorang yang lebih dari baik, dari masalalu. huuuuff.... disepanjang jalan, kerjaanku banyak mengilustrasikan apa-apa yang tiba saja ada dalam fikiranku, seperti aku melihat daun, ranting, pohon, air, tanah, kupu-kupu ke dalam bentuk kata dalam hati. Kata mutiara, seperti kupu-kupu "Kau mampu hinggap ke semua jenis tanaman bunga yang paling indah di hutan ini, tapi kau tetap memilih dan tahu kemana tempat paling nyaman menemukan sari". Mungkin, obsesiku ingin jadi penulis novel kumat lagi. Laaah apaan coba -__- !!
Jika kamu menemukan tulisan di blog ini, tolong segera lapor polisi, azzzzztt.. sorry aku ralat. Jika kamu sudah menemukan tulisan ku ini, maka kamu akan tahu; apa yang kamu baca adalah apa yang tidak aku ceritakan.
Kau menyapaku "Hai". Orang baru secara tak langsung memperhatikan ku diam-diam, juga saat fikirnya mungkin lokasi bisa lebih mendekatkan jarak, "diantara kita", sedekat alam dengan sang pencipta.
Aku tak pernah mengundangmu masuk ke dalam tulisan ini, tapi jari-jariku sudah seperti kepanasan di atas keyboard leptop setiap pagi. Bagiku, menulis adalah kesempatan yang tak bisa datang sewaktu-waktu pemikiran bercampur dengan ide, lalu terealisasi menjadi paragraf. Penulis seperti dee lestari (Penulis novel Perahu Kertas) yang menginspirasi tanganku menulis juga tak tahu aku ini siapa, dan kenapa aku terinspirasi dari film Perahu Kertas miliknya itu, aah... aku senang bergurau, suka sekali mengada-ada yang tak pernah ada.
JJJJJ
Matahari sudah lama tenggelam, karena malam kita mulai dekat, seperti kedekatan bersama teman yang lain, tertawa, cerita, teriak, menyanyi, bicara, semua melebur jadi satu. Celotehan tak penting pecahkan suasana.
Ku lihat, kau sama seperti yang lain, mungkin alis tebalmu sedikit mencuri perhatianku dari lamunan.
Aku melupakan semua perasaan, meninggalkan semua cerita yang membuat ku muak di tempat asal sebelum aku pergi kesini,lalu dekat denganmu, sebelum akhirnya kita semua sama-sama tiba di tempat yang sama, dan kita berkeinginan mendaki puncak Kaba. Pelan-pelan, nafasku terengah, seperti memekik ingatan yang sekilas teringat disela langkah ku berjalan antara ranting-ranting patah, itu memukul kepalaku. Aku tak suka ingatan ini, sangat tak suka teringat ini (dengungku lewat hati ). Tak banyak para pendaki yang lewat mengerti mimik mukaku saat berpapasan, mengapa alis kiriku naik dan aku menekan rahang bawah bibirku untuk menyembunyikannya. Sungguh, Jika benar kenyataannya aku adalah cewek cantik, muka ku tak akan setegang patrick. Pantat ku tak akan terasa berat untuk mulai pendakian lagi.
Rest...
Aku berkaca, fikirku sekarang mukaku lebih mirip spongengbob yang murah senyum, mencoba mencairkan suasana kedekatan di antara aku, kau dan trek gunung Kaba. Kelihatannya, mereka tak perduli, bagaimana hausnya aku, tapi pertanyaanmu, "Apa kau masih kuat untuk berjalan?" balasku menggangguk. The power of Love, seperti sengatan petir tak berbunyi dari dalam diriku tiba-tiba terasa. shit, sesimpel ini?. aaa, aku ini terlalu lebay menyikapi!"bergumam" lalu ku buang jauh-jauh pemikiran itu.
Yang ku takuti hanya satu; Ketika malam pergi, aku mulai terlelap, dan lelap menyadarkanku jika lebih dekat denganmu hanyalah sebuah bunga tidur. Mendadak aku kepikiran mengenai; bagaimana waktu membawa kita tujuh hari kedepan?
Karena sekarang kau memberiku tugas untuk mengendalikan perasaan yang sangat tiba-tiba ini. Nyatanya, kamu hanya perlu membuatku berhenti tersenyum. Tersenyum dari semua hal yang ku sukai darimu diatas gunung ini. semua hal yang perlahan aku tahu. Dan Kita akan menyadari betapa tak terasanya waktu berlalu. Kecemasan kita pada perasaan yang mungkin segera tumbuh.
Kadang-kadang aku selalu mengira; siapa tahu kau menginginkanku mencarimu, tapi mungkin aku terlalu takut jika aku salah. Kita adalah kedua orang dengan keentahan yang lucu. Kita saling membebaskan, namun disisi lain juga saling merindukan. Rindu untuk diakui, dianggap pernah hadir dalam hidupmu.
Aku tak mampu memutuskan mana yang lebih dingin, sisa-sisa kabut di puncak gunung Kaba atau sisa-sisa dari perasaan yang tertinggal?
Di hari kedatanganmu, adalah hari dimana aku percaya, matahari pagi ada sinarnya dan kilaunya ketemukan pada matamu. Di bukit Kaba di bulan Juli tersisa kertas kosong yang tak sempat ku tulis apa-apa, sebab kata dan cinta terpancar dari terbitnya sunrise yang berlabuh ke hatiku. Juga aku tak mampu menjelma menjadi awan diatas kawah yang patut kau sebut indah. Sejak itu, dingin yang hampir membunuhku tak lagi terasa, karena hangat genggam tanganmu sudah menetralisir semua jenis perasaanku. Aku kembali kuat, sebab aku juga sama sepertimu, telah jatuh pada hati di tempat yang sama. Aku ingin jatuh cinta tanpa dipaksa, tanpa terpaksa tanpa alasan yang dibuat-buat.
Dihari saat kita sudah ingin meninggalkan ketenangan, aku cuma memastikan perasaan ini benar atau salah. Kita mengayuh kaki menuruni gunung Kaba, diperlukan tenaga ekstra untuk sekedar berlari cepat, karena turunan di trek ini, smuanya terlihat curam namun juga tak begitu sulit untuk dilewati. Lagi-lagi jantungku semakin berdetak, aku fikir ini karna aku lelah, tangan kanan ku elus-eluskan ke dada bagian kiri, menenangkan perasaan yang tak bisa disembunyikan. Eh, tangan kiri ku kemana? hampir saja aku histeris, mendapati tangan kiriku tak terasa, tak lama aku berfikir, terang saja kenapa jantungku berdetak cepat. Kehangatan dari genggaman tanganmu membuat aliran darahku mengalir deras. Lalu aku bernafas lega, aku tak khawatir jika tangan kiriku hilang ke tempat yang benar.
Disepanjang trek turun, kita adalah sepasang kaki yang tertinggal jauh dari kaki yang lain, entah karena baju kotor di dalam keril terasa berat atau karena bokongku yang terasa berat. Nyaris aku kehabisan tenaga.
Aku anggap, semesta sudah mengatur pertemuan kita. Terlebih lagi aku tak percaya dengan semua kebetulan, aku lebih percaya pertemuan ini disebut pertemuan dadakan. Masing-masing dari kita sudah punya garis kehidupan yang digambarkan, ada yang bernyali mengungkapkan, namun ada yang diam - diam hanya bisa memendam.
Dalam teduh aku berharap kau adalah seseorang yang selalu kesepian hingga akhirnya kau memutuskan untuk pergi ke gunung Kaba bertemu dengan seorang yang suka sekali dengan keramaian di tengah sepi, agar satu sama lain bisa saling melengkapi.
Kalau kita di kasih kesempatan, terus tiba-tiba kesempatan itu kepaksa harus di lewatkan, bukan berarti kita tidak pantas menerimanya. Kita hanya perlu berlapang dada jika sewaktu-waktu kenyataan lebih pahit dari pada kopi tanpa karamel.
Malam kembali jadi penengah diantara pertemuan dan perpisahan. Menutup cerita bersama gunung Kaba yang sudah jauh kita tinggalkan. Aaaah...aku belum ingin pulang dari liburan, disini, fikiranku sering tak karuan. Sebetulnya butuh teguran, karena semua ini adalah bagian dari rasa terhadap tuhan. "Aku kurang bersyukur" semestinya, cukuplah dengan berterimakasih di bagian-bagian kecil, akan membuat mu tenang dengan segala yang di ujikan.
Beeeeep, pintu mobil yang ku dorong terbuka, kaki ku turun dengan lemas, tenaga sudah terkuras dari trek turun sampai perjalanan ber-jam lamanya dari kota Bengkulu.
Muka ku kusut, selain karna cuaca udara, mataku bangun-tidur disampingmu, membungkus sisa kenangan yang sudah kau buat selama tiga hari bersamaku.
"Terimakasih sudah jadi bagian dari kami ikut petualangan ini, kami pulang, lekas istirahat dari lelahnya mendaki", DAMN... senyum macam apa itu?. Kali ini, hidung ku tak bisa lagi di tutup tutupi, kembang kempes ketika aku merasa salah tingkah mengakhiri pertemuan. Walau sebenarnya sudah sering sekali bertemu dengan teman-teman yang lain, namun bertemu dengan mu adalah tak biasa, aku merasa kita tidak akan sedekat kedekatan ku dengan mu di atas gunung Kaba, tak akan sebaik sapaanmu di atas puncak, tak akan se aneh bibirmu yang sering kau mainkan, tak se aneh alismu yang jadi pusat perhatianku di sela-sela kesempatan. Oops, ini berakhir, tersisa puing-puing rindu tak beraturan. Sama dengan perasaan sebelumnya, apa perasaan ini tetap sama setelah seminggu kedepan?
Entahlah... Kalian satu persatu kembali naik ke mobil dan pergi begitu saja meninggalkanku.
:)
One week later....
Sayangnya aku pelupa, lupa satu hal menduga saat pertama mengenalmu, sudah mengira sebelum aku menempatkan perasaanku!
Dibagian ini, aku merasa selalu kalah. Kalah dari masalalu yang masih mencekik, kerap kali aku mencoba melepasnya kuat-kuat. Mungkin saja benar, atau hanya ketakutanku? Nyaliku berkurang, untuk sekedar mengakui rindu kepadamu. Biar saja aku memilih bungkam, sebelum lagi-lagi kenyataan buruk sudah di depanku.
Namun semakin hari, semakin dekat denganmu buatku senang. Ku tepis perasaan yang datang itu. Aku mengotori fikiran dengan semua ketidak pastian buruk, agar aku tidak begitu lancang untuk mengakui perasaan yang sedang membara ini.
"Mencari sebaris keberanian...."
Aku merebahkan punggung ke sofa panjang warna coklat yang ada di ruang tamu, menarik nafas dengan seksama, menetralisir fikiranku dengan sederet lagu milik Maudy Ayunda, lagi-lagi inspirasi menulisku. Entah mengapa lagu "Perahu Kertas" sangat membekas di ingatanku. Mungkin karena itu adalah film pertama yang ku kenal di bioskop. hiiiiks...
Di bagian pertanyaan? OMG, bukan maksud untuk menulis pertanyaan yang sudah ku tanyakan kepadamu waktu itu. Dari sesingkat pertanyaanku, apa yang ku kira itu benar. Aku merasa lega, meski pada kenyataannya aku sedikit tak bisa menerima. Yang kujadikan permasalahan disini ----- sunyi -----
Coba deh kalian yang lagi baca tulisan ini nyanyiin lagu yovie nuno yang judulnya "Merindu Lagi".
Hahaha, aku tertawa, hampir terbahak malu. Kita sedikit beda, bedanya dimana? aku lebih dulu lahir ke dunia ini, Tujuh ratus tiga puluh hari lebih dulu, dan setelah itu, kau lahir, huuuft, aku masih babyface? atau kau anggap aku tante girang? *nonjoktembok*.
Langit nampaknya sudah hampir mendung, tak bisa menampung banyak air, ku biarkan gerimis menjadi penutup!
Sekarang, marilah kita tetap begini; menyisipkan kata "saling" untuk segala hal kecuali yang menyakitkan!!!
Terharuu bc ny yuk 😂😁 tntng hati perjalanan trip wkwk
ReplyDeleteTerimakasih jyan :)
Delete