Friday, June 24, 2016

Perasaan paling tabah

0

Hari ini cuaca cukup terik. Jalanan kota terlihat lebih sendu dari biasanya. Aku berangkat menuju tempat ketika kita sepakat bisa bersama. Katamu, kita lebih asik bicara di tempat seperti ini. Kau memang agak lain dari lelaki kebanyakan. Itu juga yang menjadi sebab membuatku menyukaimu.

"Aku sudah lama menyukaimu," ucapmu. Aku terpelongo, tak mengerti sama sekali, sebab bagiku kagum denganmu adalah hal yang telah ku lakukan sejak dulu. Sebelum kau bilang menyukaiku. Aku tidak perduli apakah kau sedang mabuk atau tidak, wajahmu terlihat cerah, dengan senyum yang berbinar-binar.

"Are you serious?". Aku bertanya kepadamu.
Kau bilang, " aku adalah lelaki yang tak biasa bicara tentang bagaimana cinta, bagaimana sayang itu, hanya saja denganmu aku merasakan hal yang tak biasa. eemm, I think so". ku jawab lugas.
Seminggu belakangan kau sibuk dengan caramu mendekatiku, tak berhenti peka dengan segala hal yang berbau tentangku. Kau percaya saja kepadaku. Bagimu, aku adalah orang yang menyenangkan, kau hanya ingin dekat denganku. Karena itu kau memintaku untuk bersamamu. Semakin jauh kita larut dan jatuh ke dalam rasa yang sama.

Sekarang, kau bahkan menjadi seseorang yang tak pernah habis membuatku tersenyum bahagia setiap hari,  bercerita konyol tentang hidupmu, juga tentang bagaimana kau semasa kecil. Aku suka hal-hal aneh, mungkin terkesan ekstrim. Kau mengecup keningku lembut, sebagai ungkapan rasa bahagia yang mulai kita hadirkan. Aku tahu, saat lelaki mengecup kening perempuannya adalah bentuk kasih paling tulus dalam dirinya.

Beberapa hari hujan turun deras. Warna senja dari kejauhan itu masih nampak ke emas-emasan meski didepanku ku lihat jalan sudah penuh dengan genangan air. Aku bahkan sibuk dengan hadphone yang ku pasang di telingaku di banding mengingat bagaimana aku menunggumu disini. Kau tidak mengharap aku mengharapmu, hanya saja aku tahu, beberapa masalah yang ada di benakmu tak membuat kehadiranku membantumu. Ada sesuatu yang berkecamuk di kepalamu.

Aku memelukmu dari belakang. Merasakan hangat tubuhmu. Mungkin itu terakhir kali nya kau membawaku mengarungi jalan yang tak begitu jauh dari tempat kau menjemputku, dan mengajakku untuk makan makanan yang tak pernah bisa ku habiskan sendirian. Tanpa bicara, kau hanya sesekali menoleh ke arahku dengan mata sayu. Malam dan lampu-lampu menjadi tontonan ditengah bisu kita saat itu.

Semakin sering pergi dari kejaranku, semakin perasaanku terbelah. Ternyata apa yang telah ku mulai, kini semakin mengikatku. Rasanya aku tak bisa lepas sama sekali. Tapi kenyataan yang ku harap tetap saja tak seimbang. Kau memilih diam dengan semua rasa yang kau pendam. Jauh lebih hangat saat kau memperhatikanku.

Hingga suatu hari aku masih menghubungimu, mencoba menenangkan fikiranmu, membuatnya jauh lebih hangat, agar keadaan kita menjadi jauh lebih baik. Kita pun bisa kembali berdamai dengan cerita-cerita konyol. Sebutnya aku berdusta, bukan dengan alasan yang tak lain karna alasanmu. Aku mencoba fair dari keadaan yang dingin.

"Aku sudah tak bisa seperti dulu, saat aku menginginkanmu,".
Itu katamu, kata yang membuat harapanku saat itu bias begitu saja. Perjuanganku mempertahankanmu di waktu yang belum lama tak berguna sama sekali, tak ada yang bisa kau adili di antara banyaknya argumenku. Lalu aku pun diam, menerima semua kekalahan di atas rasa mu yang kau anggap semua itu memanglah salahku. yaah, aku salah! itulah katamu.

Kepalaku seperti terbakar. Bagaimana mungkin, aku pernah patah sepatah patahnya dari masalalu. Setelah berharap masa baru membuatku hidup,  masa itu justru mengujiku lebih dari masalalu. Hambar, tak ada kata yang bisa ku sebut lagi untuk ku adili di depanmu. Kau berlalu begitu saja. tanpa tahu bagaimana rasanya jika jadi aku.

Senja masih enggan menjadi malam. Dia masih duduk mempermainkan nada yang berdengung di kupingku. Aku larut ke dalam lamunan. Masih saja terlihat baik, meski hati kita sudah sama-sama patah.

"Kau harus tahu. Aku perempuan yang tidak bisa berlari jauh dari masalalu, setelah masamu juga menghantuiku. Tak ada selain kamu. Namun, sejak kurasa pahit sikapmu, aku belajar mengerti. Kau tidak pernah benar-benar memberikan cintamu sepenuh hati. Bahkan saat aku sudah berjanji kepada malam. Kau hilang begitu saja. Dan membuatku hanya ingin mengenang tanpa ingin mengulang". Kudapati hujan yang menenangkan, meski tak sempat ku utarakan.




0 komentar:

Post a Comment