Mata adalah bagian separuh tubuh bagaimana melihatmu dari dekat di balik cahaya. Lihat, Sapa senja ikut menyongsong disekeliling, ku bidik dengan mata yang tertera di depannya. Warna nya yang ke emas-emasan berubah menjadi jingga, hawa panas siang pun berangsur angsur menjadi lembut. Senja sebagai puncak ditutupnya semua sinar yang terang menuju gelap, yang lalu menuju malam, malam yang tak pernah tahu, masihkah esok hari masih membuka mata, melihat indahnya sinar mentari pagi.
Senja itu candu. Rela menenggelamkan dirinya agar keindahannya terpancar, betah menunggu hari esok untuk kembali bertemu senja. Senja punya sejuta makna saat ia mulai berlalu. Rela melihat burung-burung tersenyum menikmati indahnya di udara.
Jangan tanya mengapa senja harus berganti. Mungkin tidak dengan hatimu yang tak bertepi di perbaringan bawah sini, mengenang masalalu dengan menerobos kehidupan sekarang. Mengubur kenangan bangkit dengan masa depan. hei, hei, hei, kau salah satu mahluk yang tak menikmati senja karna kamarmu sudah cukup nyaman menyimpan cerita. Kau mengubur semua cerita bersama asap dan kesepian. Sesekali tertawa adalah alasan lain untuk tetap bahagia.
Tepi adalah perbaringan terakhir melepas lelah, sebanyak kau mengukir rindu yang membuat ku ingin menggapainya. Kau adalah setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam. Ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala, kau hadir dengan sinar baru bersama cahaya yang menunggu mu di atas.
Aku tak tahu bagaimana menjadi sunrise, tetaplah menjadi senja yang utuh dengan keindahannya, meski hangatmu perlahan sirna, kau tak begitu buruk untuk di lupakan hanya dengan sekejab saja. Aku tak tahu kapan takdir itu ada, aku tetaplah sebagai cerita yang setia menunggu senja.
"Terimakasih", Kataku pada warna yang membuatku tak lupa tersenyum tiap kali memandangnya. Meski sedetik tiba-tiba, tapi kau mengajarkanku, bahwa pagi akan berganti malam. Dan saat ini, kau menyambut pagi di ufuk barat lalu menghantarkannya kembali ke peraduan.
Senja itu candu. Rela menenggelamkan dirinya agar keindahannya terpancar, betah menunggu hari esok untuk kembali bertemu senja. Senja punya sejuta makna saat ia mulai berlalu. Rela melihat burung-burung tersenyum menikmati indahnya di udara.
Jangan tanya mengapa senja harus berganti. Mungkin tidak dengan hatimu yang tak bertepi di perbaringan bawah sini, mengenang masalalu dengan menerobos kehidupan sekarang. Mengubur kenangan bangkit dengan masa depan. hei, hei, hei, kau salah satu mahluk yang tak menikmati senja karna kamarmu sudah cukup nyaman menyimpan cerita. Kau mengubur semua cerita bersama asap dan kesepian. Sesekali tertawa adalah alasan lain untuk tetap bahagia.
Tepi adalah perbaringan terakhir melepas lelah, sebanyak kau mengukir rindu yang membuat ku ingin menggapainya. Kau adalah setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam. Ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala, kau hadir dengan sinar baru bersama cahaya yang menunggu mu di atas.
Aku tak tahu bagaimana menjadi sunrise, tetaplah menjadi senja yang utuh dengan keindahannya, meski hangatmu perlahan sirna, kau tak begitu buruk untuk di lupakan hanya dengan sekejab saja. Aku tak tahu kapan takdir itu ada, aku tetaplah sebagai cerita yang setia menunggu senja.
"Terimakasih", Kataku pada warna yang membuatku tak lupa tersenyum tiap kali memandangnya. Meski sedetik tiba-tiba, tapi kau mengajarkanku, bahwa pagi akan berganti malam. Dan saat ini, kau menyambut pagi di ufuk barat lalu menghantarkannya kembali ke peraduan.
0 komentar:
Post a Comment