Sunday, May 29, 2016

Menulis dan Tertulis untukmu

1

Aku suka menulis, suka mengilustrasikan bagaimana bulu mata dan alismu bergerak saat kau tidur, menari nari berpadu dengan bibirmu yang tipis. Mataku tertutup rapat, namun tanganku tak henti menerawang ke sela tawamu yang tertahan itu. Kau tertidur, ah kurasa tidak. Diam - diam kau mendengar aku yang bernyanyi di dekat telingamu, berbisik pelan, menyampaikan rindu.

Perasaan di dadaku semakin megah. Perasaan yang sebenarnya sudah lama ku pendam, Selama itu, aku hanya mampu diam, hanya sesekali melihatu tertawa diam-diam, kadang kau pun hanya berjalan melintas ke semua arah yang sudah sering kau lalui. Tidak berani mengatakan apa - apa. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri lebih dulu. Sebab, aku tahu, mencintaimu bukan sebuah hasrat yang menggebu. Tak masalah bagaimana masalalumu, terkadang seseorang perlu jatuh dulu, hingga butuh waktu lama untuk bangun lagi, kemudian memahami. Meski sepanjang waktu sebelum mengenalmu adalah masa - masa pahit menunggu.

Entah mengapa, aku nyaman saja, mendengar embusan nafasmu, merasa lebih dekat denganmu, seolah aku sedang bercengkrama denganmu. Perasaanku semakin bertambah, dan itu membuatku semakin takut. Aku tidak pernah menyiapkan diri untuk kau tidak mencintaiku, tidak juga pernah menyiapkan diri jika kau tidak mencintaiku. Aku tidak pernah mampu merangkai rencana untuk hal itu.Yang aku yakini, kau saja yang aku cintai.

Waktu memang tidak bisa di hentikan, ia terus melaju dan menghantarkan kita kepada cerita - cerita yang nanti akan terjadi, Mengapa dan bagaimana kita di masa nanti. Pada dasarnya, kita juga akan bertemu pada titik itu. Kau dengan ceritamu, dan aku yang terus ingin bercerita tentangmu. Hanya kau saja. Aku suka  melihatmu dari berbagai sudut, bahkan sudut yang menurutmu itu adalah yang paling buruk. Teruslah. karena kau tak akan menjadi orang lain yang tak kau suka pada dirimu sendiri.

Aku mencoba menerka, mencerna. Memahami berkali-kali, tidak ada yang salah dengan selembar kertas putih yang ku tulis dengan tinta di saku jaketmu. Nyatanya, kau masih tersenyum merangkul tubuhku yang tak begitu sepadan dengan tinggi tubuhmu, membuatku semakin nyaman dan lupa bagaimana rasanya jatuh.

1 comment: