Apartemen. Antara manusia-manusia
penghuni kamar tiga lantai, enampuluh delapan pintu, seratus tiga puluh
enam jendela. Kamarmu berubah - ubah, dari lantai yang paling bawah, ke
lantai dua, hingga kau kembali lagi ke lantai pertama. Entah, apa karna
kau mudah bosan, atau kau sudah tak betah lagi dengan satu kamar tempat
merebah lelah.
Belum
lama kemudian aku juga menjadi penghuni di lantai paling bawah. Waktu
itu, bagiku kau mahluk asing. Tak suka banyak suara, menyendiri, melihat seperlunya saja. Kulitmu putih, matamu cekung,
mata tidur, mata orang yang hampir tiap malamnya menghabiskan waktu bermain gaplek dengan tetangga sebelah. Iya, itu kamu versiku.
Aku biasa saja, hampir setiap waktu mata kita hanya bertemu diam, membiarkan suara angin berlalu lalang di telinga Lebih kencang dari suara debar didadaku.
Kau tidak kaku, kau hanya tabu kepada hal baru yang sebenarnya ingin kau tahu.
Keberanian sedang tak dipihakmu.
Aku biasa saja, hampir setiap waktu mata kita hanya bertemu diam, membiarkan suara angin berlalu lalang di telinga Lebih kencang dari suara debar didadaku.
Kau tidak kaku, kau hanya tabu kepada hal baru yang sebenarnya ingin kau tahu.
Keberanian sedang tak dipihakmu.
Ada
bekas aromamu diantara angin dan debu - debu lorong kamar. waktu itu
kau di kamar satu, berbeda denganku, sejak pertama kali aku telah jatuh
hati ke kamar paling angker menurut temanku, kamar dua belas setelah
kamar yang ku lewati depan kamarmu.
Detik,
menit, jam, hari, minggu, bulan, juga tahun yang setiap saat berlalu.
Seperti halnya kita, tak ada di lorong waktu tempat mata kadang saling
beradu. Aku sibuk dengan semua hal yang baru, dan kau masih nyaman bicara dengan bisu, berharap debu tak akan pindah ke lorong lain.
Kadang kau bertanya, kadang kau mencari, namun lebih sering kau mengabaikan banyak hal, apalagi aku.
Kadang kau bertanya, kadang kau mencari, namun lebih sering kau mengabaikan banyak hal, apalagi aku.
Disatu
lorong, ada dua belas pintu kamar yang terhitung dari kamar nomor satu,
dan itu kamarmu. Nomor dua belas menjadi penutup dari lorong yang
sering mempertemukanku denganmu, dan itu kamarku. Aku lalu lalang di
depan kamarmu, rasanya ingin saja tahu siapa namamu, dari mana asalmu,
dan bagaimana bahasa isyaratmu. Rasa penasaran itu menjadi rubik yang
berputar-putar di kepala. Jatuh hati. Apa itu sebutan untuk perasaan
yang aneh saat itu?
Yes, I think so,
bukankah begitu percakapan yang mulai membuat bibir tipismu tersenyum
mengenalku. Aku, kau, bercengkrama lewat bahasa emoticon di layar
Android, karena seperdua malam membawaku kepada baling-baling yang
membuat tidur kembali nyaman, dan bibir adalah wadah dimana kita
menuangkan rasa.
Lagi-lagi malam menjadi saksi, beradu di bawah lampu kuning, sedikit redup di bagian sudut ruang yang menyajikan French fries dan moccafloat sebagai menu disela-sela cerita konyol. Angguk-anggukmu kembalikan mata ke peraduan, itu lah puncak perasaan yang diam - diam sudah kita simpan. Kita memulainya dengan gelora yang terbakar menjadi partikel-partikel cinta, menyatukan rasa diantara tawa, terikat satu ke sanubari. Kita sama-sama memulai kembali, sebuah dan semua resiko yang sudah mungkin akan terjadi.
Aku mencoba sembuh dari luka, bersamamu mengubah cerita, sudah tak takut jatuhkan hati keperbaringan hatimu yang ku terka bisa seutuhnya bersama. Dengarkan aku, indah tak hanya ada di sebagian cerita, meski akan ada luka, tetaplah percaya kepada warna di dalamnya, kita pernah bicara seberapa kuat hati bisa menerima. Ingatlah, kelingking ini tak pernah lari dari manis, di lahirkan bersampingan agar kau tahu begitu dekat kekuatan yang ada di antaranya. Bukan perihal dusta, tapi kata yang sedikit gila ini, memang benar adanya.
Aku kerap kali berhalusinasi, bagaimana kita saat pertama bercerita, di tempat dan waktu yang sama, walau sederet luka melukai salah satu hati yang sedang lara. percayalah hati tak bermuara ke bagian tepi untuk pelan-pelan sirna. butuh waktu lama, dan kembali memperbaiki semuanya.
~ To be continue ~
0 komentar:
Post a Comment