Saturday, January 16, 2016

Kita terus saja bercerita

0

Tempatku luas tetapi sempit. Luas, dimana – mana ada jalan, sempit karna dimana – mana orang mencari jalan. Aku berada di tempat yang begitu asing, memberiku jalur berbeda dari jalan yang ku cari. Begitu tak punya arah menginginkanku untuk berhenti menjajah semua semak yang ada.

Masih ingin berdua dengan mu saja, membiarkanmu menikmati mataku yang juga menyuguhkan pelangi setelah hujan di malam ini. Kita hanya berdua, berselimut kisah – kisah yang tak ku tahu darimu. Aku kagum, terkejut dengan semua cara yang kau tujukan hanya kepadaku saja. Membuat dada ini ingin lekas memelukmu, aah aku berlebihan menanggapi ceritamu itu. Aku bahagia saja, kau memberiku sebuah judul yang dulu aku memikirkannya, kau selalu bicara tentang apa yang sebenarnya ingin aku bicarakan. Kau begitu lugas dengan bahasa dan mimik muka yang membuatku hanya tetap ingin tersenyum. Hujan membiarkan saja aku terus tersenyum di depanmu, meski sebenarnya orang lain mengusik pikiranku. Entah kekuatan apa kau tunjukan kepadaku, semua terasa bahagia saja, terus merasa bahagia saja saat semua cerita itu kau buka dengan cinta.


Ditempat ini hanya ada aku dan kau yang menyongsong gurau pemuda pemudi. Tempat di pinggiran jalan, di bawah lampu yang menyala. Pemandangan disekitar hanyalah cangkir – cangkir berisi susu hangat dengan campuran jahe di atasnya. Kau begitu fasih menikmati minuman itu. Menikmati dalam, rasa demi rasa yang tertuang ke dalam mulut. Meyeduh rasa hangat olehnya. Hitungan detik, mataku dan matamu bertemu, mencoba berbicara dengan suara bisu. Bukan untuk cerita yang tertera panjang, hanya sekilas senyum, yang telah kita artikan bersama.



Kepadaku saja, kau berikan semua cerita yang tak pernah habis itu, kau berikan rasa yang tak ku tahu dari mana asalanya, kau ku sebut pengagum rahasia, tapi kau telah nyata ada. Bukanlah sebuah rahasia, saat kita bersama berbagi tawa, iya hanya tawa yang kau hadirkan, hampir lupa dimana waktu yang membuatku tahu dimana letak kesedihanku sendiri. Kau mengubur semuanya menjadi cerita, menjadikannya satu di belakang duka. Menepis hampa dibalik kosongnya mata ketika tak bersama. Kemana lagi tawa? Yang kau tahu hanyalah aku bahagia, tanpa kau ingin mengisi kemana duka juga luka di dalam jiwa.

0 komentar:

Post a Comment