Tempatku luas tetapi sempit. Luas, dimana – mana ada
jalan, sempit karna dimana – mana orang mencari jalan. Aku berada di tempat
yang begitu asing, memberiku jalur berbeda dari jalan yang ku cari. Begitu
tak punya arah menginginkanku untuk berhenti menjajah semua semak yang
ada.
Masih ingin berdua dengan mu saja, membiarkanmu
menikmati mataku yang juga menyuguhkan pelangi setelah hujan di malam ini. Kita
hanya berdua, berselimut kisah – kisah yang tak ku tahu darimu. Aku kagum,
terkejut dengan semua cara yang kau tujukan hanya kepadaku saja. Membuat dada
ini ingin lekas memelukmu, aah aku berlebihan menanggapi ceritamu itu. Aku
bahagia saja, kau memberiku sebuah judul yang dulu aku memikirkannya, kau
selalu bicara tentang apa yang sebenarnya ingin aku bicarakan. Kau begitu lugas
dengan bahasa dan mimik muka yang membuatku hanya tetap ingin tersenyum. Hujan
membiarkan saja aku terus tersenyum di depanmu, meski sebenarnya orang lain
mengusik pikiranku. Entah kekuatan apa kau tunjukan kepadaku, semua terasa
bahagia saja, terus merasa bahagia saja saat semua cerita itu kau buka dengan
cinta.
Ditempat ini hanya ada aku dan kau yang menyongsong
gurau pemuda pemudi. Tempat di pinggiran jalan, di bawah lampu yang menyala.
Pemandangan disekitar hanyalah cangkir – cangkir berisi susu hangat dengan
campuran jahe di atasnya. Kau begitu fasih menikmati minuman itu. Menikmati
dalam, rasa demi rasa yang tertuang ke dalam mulut. Meyeduh rasa hangat
olehnya. Hitungan detik, mataku dan matamu bertemu, mencoba berbicara dengan
suara bisu. Bukan untuk cerita yang tertera panjang, hanya sekilas senyum, yang
telah kita artikan bersama.
Kepadaku saja, kau berikan semua cerita yang tak
pernah habis itu, kau berikan rasa yang tak ku tahu dari mana asalanya, kau ku
sebut pengagum rahasia, tapi kau telah nyata ada. Bukanlah sebuah rahasia, saat
kita bersama berbagi tawa, iya hanya tawa yang kau hadirkan, hampir lupa dimana
waktu yang membuatku tahu dimana letak kesedihanku sendiri. Kau mengubur
semuanya menjadi cerita, menjadikannya satu di belakang duka. Menepis hampa
dibalik kosongnya mata ketika tak bersama. Kemana lagi tawa? Yang kau tahu
hanyalah aku bahagia, tanpa kau ingin mengisi kemana duka juga luka di dalam
jiwa.
0 komentar:
Post a Comment