Aku bukan
seseorang yang paham, bagaimana puisi itu indah, aku juga bukan seseorang
yang tahu bagaimana merangkai kalimat indah menjadi sempurna. Setiap kata yang
ku tulis hanyalah ilustrasi sebuah rasa yang
tak pernah tahu kapan akan ku sampaikan kepadanya yang masih saja mengusik puing
harapan yang menggantung di langit – langit relung hati. Bukan karna aku
berhenti menjatuhkan cinta ke tempat yang salah, aku hanya mencoba mengusik
resah yang selalu bersemayam.
Aku pernah
menjadi seseorang yang munafik, bahkan kepadanya setiap cinta ku jatuhkan,
jawabannya tetap sama, bukan sentuhan menjadi rasa ku menanamkan cinta,
tapi darinya yang menjaga cinta hingga dia tahu bahwa waktu juga keiklhasanlah
menjadikan cinta yang ku cari sebenarnya. Kesalahanku tidak sedikit, terlalu
jauh hanyut kepada cinta yang belum pernah ingin ku jatuhkan hanya pada satu
hati saja. Anggaplah saja aku tak pernah tahu apa yang sedang kau jalani
sebelum mengenalmu, iya, aku memang tak mengenalmu. Jauh sebelum aku berniat mengetahuiumu sejauh ini. Kau terus saja mengikis cinta di tepian hati
yang belum abadi. Hadirkan sakit dengan rasa ingin memiliki. Ah, aku terlalu
sayu pada cinta, membiarkannya menjadikan ku terlihat lemah, seperti drama
saja. Aku membiarkan bibir ini tersenyum sendiri, menggeliuk lemah.
~~~~ * ~~~~
Mengingatmu
bukan segaja aku lakoni. Membiarkan mu terbang di fikiranku ialah bahagia.
Menjadikanmu tujuan ku adalah karya, karya yang ingin ku tunjukan kepadamu,
meski kapan saja, meski waktu juga akan merubahnya. Aku tak perduli, seberapa
jauh kau berlari dari warna warni cinta yang ingin bersemarak erat di hidupmu.
Tetap dapat melihatmu di dekat ku saat ini juga sebagai alasanku menulis cinta lagi, menjadikan
inti dari rasa ku menyimpan cita-cita. Dimana saja, terkadang, tiba – tiba kau menjadi
ide sederhana yang akan ku tuliskan dalam cerita. Buku memuat tentang apa saja,
tentang apa yang ku temui saat ada tak jauh dari namamu. Aku hanya bisa berimajinasi,
mengilustrasikan setiap warna yang tertera di dalamnya. Sesuka hatiku memainkan
alur bahagia, tanpa tahu duka itu apa.
Kantung
mataku semakin besar, semakin lama raut muka ku juga semakin tak karuan, ada –
ada saja hal kecil kau ceritakan lewat petikan nada, membuatku tak bisa
pejamkan mata seperti insomnia. Namun aku
senang nyanyikannya, aku suka mengimajinasikannya bersama malam. Malam panjang, malam yang
membuatku menaruh rindu di tengah kerumunan, menjaga kesunyian
ditengah keramaian. Lagi
pula, kau tak menyukai keramaian kan, kau senang berteman dengan sepi, bermain
dengan ilustrasi yang hanya kau bayangkan sendiri. Sejak kapan kau mulai tahu
bahwa aku menyukai semua yang kau lakukan, hanya karna ambisi mu menjadi
seorang nyaris sempurna.
Bagiku,
lebih mudah memendam semuanya sendiri, bila perlu merapatkannya bersama pintu
kamar yang selalu terkunci saat mataku mulai lelah, dan ku biarkan lenyap ditelan
gelap.
Aku tak
menyimak apapun yang bisa aku ketahui untuk sekedar mencari keberadaanmu. Pernah kau begitu
asing, menjadi seseorang tak ku kenal, lain dari biasanya, ku lihat tak seperti
kebersamaan kita.sehingga aku berfikir, bisakah kuperlambat waktu? ku biarkan
menghitung detakan jam saja, agar detik tak bersuara begitu jelas. Semuanya,
kepada malam, yang selalu setia hadir, ku biarkan rindu menyelimuti perbaringan
sampai terlelap hanyut bersama malam. Entah itu hanya mimpi yang bila mungkin
bukan sepenuhnya kenyataan, aku masih ingin terus berharap jika akhir itu bukan
dari segala akhir yang mengakhiri semuanya. Kecuali, nafasku terhenti dan
mataku tak dapat lagi menyampaikan rindu.
0 komentar:
Post a Comment