Wednesday, October 28, 2015

The Reason

0

Kita sering tak menduga, satu gerbang di tempat yang begitu ramai membawa kita kemana. Tapi koridor disini benar – benar menjadi saksi, ada seseorang yang setia menunggu di bangku panjang. Tak beranjak dari keramaian yang memberi banyak suara ricuh. Memberi suara kaki dan gemuruh.

Waktu tak pernah mundur, berdetak setiap detik, menit, bahkan jam yang terus saja berputar. Waktu pula yang menemukanku denganmu. Bukan seperti angin berlalu, mengingat, kita tak pernah ada pada masalalu, aku melihatmu berdiri di koridor waktu, hingga matamu pertemukan ku pada zona rindu milikmu. Berdiri di koridor waktu, ditengah tangan yang menggandengku mendekatimu.

Empat bola mata yang diam, diatas dua puluh jari yang sama menampung cerita didalamanya. Disetiap kedipan yang jatuh, semangatku luruh pada pelupuk matamu yang teduh. Kau menjadi sesuatu yang mengisi kosongnya kertas di kotak ceritaku, membiarkannya terisi lagi dengan tulisan – tulisan tinta pena. Semacam cerita yang baru saja kau dengungkan, aku mendengar setiap bait kalimat nyaring dari suaramu. Sengaja membiarkan aku mengingat, juga memahamimu, ke lorong waktu masalalu.

Ada aku bersama cerita mu, ada di depanmu di baris koridor panjang. Mencuri cahaya yang tertuju dari mata itu, berdiri mencoba menatapmu. Sepasang bola mata kau suguhkan bersama suara yang menyambut tanganku. Hening , ada jeda beberapa saat. Berfikir, aku tak tak takut mati, yang kutakutkan adalah hari esok. Sebelum kau datang, aku adalah hantu yang setiap hari melewati batasan koridor.

Apa yang kau inginkan di hidupmu? Katakanlah saja!
karna aku hanya ingin lebih dari apa yang kau inginkan. Tak ada yang salah dengan semua masalalumu, dibandingkan masa yang hanya menghabiskan waktu di dalam sangkar, kau lebih baik. Bisa menjadi dirimu dimasa sekarang sudah cukup bagiku mengenalmu.


0 komentar:

Post a Comment