Kita sering tak menduga, satu gerbang di tempat yang
begitu ramai membawa kita kemana. Tapi koridor disini benar – benar menjadi
saksi, ada seseorang yang setia menunggu di bangku panjang. Tak beranjak dari
keramaian yang memberi banyak suara ricuh. Memberi suara kaki dan gemuruh.
Waktu tak pernah mundur, berdetak setiap detik,
menit, bahkan jam yang terus saja berputar. Waktu pula yang menemukanku
denganmu. Bukan seperti angin berlalu, mengingat, kita tak pernah ada pada masalalu,
aku melihatmu berdiri di koridor waktu, hingga matamu pertemukan ku pada zona rindu
milikmu. Berdiri di koridor waktu, ditengah tangan yang menggandengku
mendekatimu.
Empat
bola mata yang diam, diatas dua puluh jari yang sama menampung cerita didalamanya.
Disetiap kedipan yang jatuh, semangatku luruh pada pelupuk matamu yang teduh.
Kau menjadi sesuatu yang mengisi kosongnya kertas di kotak ceritaku,
membiarkannya terisi lagi dengan tulisan – tulisan tinta pena. Semacam cerita
yang baru saja kau dengungkan, aku mendengar setiap bait kalimat nyaring dari
suaramu. Sengaja membiarkan aku mengingat, juga memahamimu, ke lorong waktu
masalalu.
Ada aku bersama cerita mu, ada di depanmu di baris koridor panjang. Mencuri
cahaya yang tertuju dari mata itu, berdiri mencoba menatapmu. Sepasang bola
mata kau suguhkan bersama suara yang menyambut tanganku. Hening , ada jeda
beberapa saat. Berfikir, aku tak tak takut mati, yang kutakutkan adalah hari
esok. Sebelum kau datang, aku adalah hantu yang setiap hari melewati batasan koridor.
Apa yang kau inginkan di
hidupmu? Katakanlah saja!
karna aku hanya ingin lebih dari apa yang kau inginkan. Tak ada yang salah
dengan semua masalalumu, dibandingkan masa yang hanya menghabiskan waktu di
dalam sangkar, kau lebih baik. Bisa menjadi dirimu dimasa sekarang sudah cukup
bagiku mengenalmu.
0 komentar:
Post a Comment