Aku dan kau
tak lagi menjadi kita, aku dan kau telah sama – sama tak lagi melihat dunia. Saat
sinar datang, aku membuka mata, tepat didepanku hanya sebuah sinar yang
menyilaukan. Jelas, aku ingat, kapan kau tutupi mataku dari cahaya, menghapus
rasa yang pernah menjadi cinta, membiarkan angin datang menerpa, saat cinta
bukan lagi milik kita.
Lalu, kau
dengan segala cara, membiarkan kita berada dalam lara, menyelipkan nama cinta
yang masih saja tak pernah ingin kita buka. Rindu menjadi tabu, dan hati
sedikit terluka. Memang, tak muda membiarkan cinta pergi begitu saja. Namun apa
daya, satu katapun aku tak ingin lagi mengucapnya, cinta, rindu, sayang, kata
yang dulu aku kemas menjadi cahaya, ku biarkan sirna bersama senja yang setiap
hari kau terpa.
Diam - diam,
aku masih mencari puing – puing nama mu yang mungkin masih bersembunyi di balik
senja, namun saat pagi datang, nama mu pun perlahan panas dari mataku. Bersinar
bersama pagi, lenyap bersama senja adalah hal yang biasa kau ingatkan di setiap
hari ku yang menanti cahaya cahaya baru. Berharap, kau bukanlah yang baru yang
akan ku temui lagi bersama rindu. Aku mengubur, menguburmu jauh ke dalam
sukmaku. Agar kau tak lagi bisa mengucapkan kaa “Aku sudah tak tahu apa cinta bersamamu”.
Aku hanya
tersenyum, mendengar semua kata yang awalnya tak pernah sempat ku biarkan kau
menyebutnya. Hatimu begitu angkuh, hingga kau tak lagi sempat mendengar burung
bernyanyi. Bernyanyi dengan nada terakhir dari penantian terakhir. Sia – sia,
aku lebih terluka saat kau membiarkan hatimu pergi dengan rasa kecewa. Rasa
yang belum sempat kau ucapkan dalam cerita mu malam itu. Ceritamu? yaaa, cerita
mu itu adalah salah satu cerita yang tak pernah aku lupa, tak pernah aku usik.
Ku biarkan datang dan pergi, sesuka hatinya. Mungkin aku hanya akan membuang
jauh kunci yang pernah kau beri bersama cinta yang kini telah mati.
0 komentar:
Post a Comment