Wednesday, August 19, 2015

Angin akan mengerti kemana dia harus berhembus

0

Kenapa aku yang haus berjuang sekuat ini? Memperjuangkan hati yang pelan – pelan redup, patah mengikuti angin yang pergi dengan sembarang. Aku tak mengerti dari mana sakit itu datang, fikiran itu buyar saat aku mencoba melupakanmu dengan sengaja. Banyak tinta sengaja aku tuang di hari – hari tanpamu. Menabur ilusi yang ku buat sendiri. Dengan kekosongan yang terus menjadi – jadi. Ketika warna itu jadi, lihat, sebuah hati yang masih saja terang, belum sama sekali menabur warna dari banyak nya tinta yang ada.

Adakah orang lain yang bisa menjadi wanita setegar dan seceria ini, berjuang sekuat ini? Masihkan aku menjadikan drama untuk menutupi semua baikku tanpa siapappun disisiku. Aku tak pernah tahu kapan saja datangnya perasaan rindu, tak terhitung untuk kau tahu. Tak terbayang saat kau coba gambarkan. Melebihi dunia mu yang masih saja kau tanjak. Berlari kesana – kemari, harapan ku tetap saja seperti kau berharap aku ada disisimu. Tangan ini masih saja perlahan  naik dari samping badan menuju pundakmu. Lalu tersenyum, membiarkan kau menghapus warna yang tak ku harap akan bisa pernah hilang, pekat selamanya.

Bila saja keberanianku untuk berlari  dari dunia yang tak buatku bergerak, aku akan berlari, aku akan melangkah kemana hatiku akan melagkah. Mengejar mu bila itu yang harus jadi perjuangan. Bila saja semua nya terjadi bukan hanya sebagai mimpi, membatasi ku bertemu denganmu. Aku tak akan tidur. Aku tak akan diam saja.

Mengumpulkan keberanian untuk pergi darimu juga bukan hal yang mudah. Ada hati yang ku biarkan patah dan basah. Ada rindu yang ku abaikan saat mengadu kerena memang, ada satu hal yang akhirnya ku mengerti : kadang kita dengan sengaja menghabiskan waktu untuk menunggu orang yang tak akan pernah datang. Dan yang harus ku lakukan, jika aku tak lagi bisa mengumpulkan keberanian untuk mencintaimu, aku harus mengumpulkan keberanian untuk meninggalknamu.






0 komentar:

Post a Comment