Kenapa aku yang haus berjuang sekuat ini? Memperjuangkan
hati yang pelan – pelan redup, patah mengikuti angin yang pergi dengan
sembarang. Aku tak mengerti dari mana sakit itu datang, fikiran itu buyar saat
aku mencoba melupakanmu dengan sengaja. Banyak tinta sengaja aku tuang di hari
– hari tanpamu. Menabur ilusi yang ku buat sendiri. Dengan kekosongan yang
terus menjadi – jadi. Ketika warna itu jadi, lihat, sebuah hati yang masih saja
terang, belum sama sekali menabur warna dari banyak nya tinta yang ada.
Adakah orang lain yang bisa menjadi wanita setegar dan
seceria ini, berjuang sekuat ini? Masihkan aku menjadikan drama untuk menutupi
semua baikku tanpa siapappun disisiku. Aku tak pernah tahu kapan saja datangnya
perasaan rindu, tak terhitung untuk kau tahu. Tak terbayang saat kau coba
gambarkan. Melebihi dunia mu yang masih saja kau tanjak. Berlari kesana –
kemari, harapan ku tetap saja seperti kau berharap aku ada disisimu. Tangan ini
masih saja perlahan naik dari samping badan menuju pundakmu. Lalu tersenyum,
membiarkan kau menghapus warna yang tak ku harap akan bisa pernah hilang, pekat
selamanya.
Bila saja keberanianku untuk berlari dari dunia yang
tak buatku bergerak, aku akan berlari, aku akan melangkah kemana hatiku akan
melagkah. Mengejar mu bila itu yang harus jadi perjuangan. Bila saja semua nya
terjadi bukan hanya sebagai mimpi, membatasi ku bertemu denganmu. Aku tak akan
tidur. Aku tak akan diam saja.
Mengumpulkan keberanian untuk pergi darimu juga bukan hal
yang mudah. Ada hati yang ku biarkan patah dan basah. Ada rindu yang ku abaikan
saat mengadu kerena memang, ada satu hal yang akhirnya ku mengerti : kadang
kita dengan sengaja menghabiskan waktu untuk menunggu orang yang tak akan
pernah datang. Dan yang harus ku lakukan, jika aku tak lagi bisa mengumpulkan
keberanian untuk mencintaimu, aku harus mengumpulkan keberanian untuk
meninggalknamu.
0 komentar:
Post a Comment