Kemarin, kamu adalah percakapan yang selalu aku siapkan, aku ceritakan, dan ku nantikan. sekarang kamu hanyalah seseorang yang perlahan terseret ombak hingga ke tepi dasar hatiku yang telah lelah mengharapmu untuk kembali pada cerita pertama saat bersamaku. Aku terlalu takut melepaskan, meski di dada sudah begitu kelat untuk mempertahankan.
Pada pelukan-pelukan yang kita tinggalkan, sempat aku menanggalkan harapan yang pernah ingin kukekalkan. Namun, menjauh dari apa yang pernah begitu kau cintai, membuatku hanya sebagai tembok tempatmu bersembunyi dari naungan masalalu. tak terlihat, tapi tetap saja kau terkadang bersedih, gembira, bahkan menangis dalam cerita cinta itu. Matamu belum terbuka lebar hingga dunia yang kau lihat hanya sebagian indah saat bersamaku.
Saat semua kau akhiri dengan segala kebisuan yang berakhir luka , aku tak bisa lagi menyediakan diri sebagai tempatmu kembali. Apapun alasannya. Seharusnya kita masih tetap bersama jika saja kau tak memakai angkuh kepadaku. Banyak hal yang tak bisa ku jelaskan tentang bagaimana perasaanku. begitupun banyak hal yang kau pendam dan tak ingin kau tunjukan kepadaku. Kita bertemu hanya sebagai dua orang menyapa rindu, namun sebenarnya hanyalah gambaran abstrak diantara kita.
Beberapa sesal terkadang tak berguna, sebab aku ingin membiarkan cerita kita berlalu dengan keadaan sedih sekalipun. Pelan - pelan saja, kita hanya akan saling memperhatikan, tanpa harus menanyakan apakah kita pernah saling menyayangi, lama - lama luka kita akan pulih kembali, lalu kau dan aku akan saling melupakan tanpa perlu saling jatuh hati lagi.
Wednesday, May 20, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment