Wednesday, May 20, 2015

Tersenyumlah

0

Ketika aku melacak keberadaan mu, ternyata kau sama saja seperti bulan yang terkadang hadir di langit namun tak setiap saat bersinar. Dikala sinarmu terang, itu hanya sebagian dari ribuan cahayamu, menampakan sinar gerhana yang membuat seisi mata dan cahaya lain seketika takjub. Aku setia menjadi langit yang tak pernah kosong dari sinar, matahari, bulan, bahkan planet yang terus nampak saat aku setia menunggu kedatangan bulan. Sang pencipta begitu agung, tak terfikirkan olehku, jika saja langit begitu abu bila tanpa sinar - sinar yang sangat terang meski terlihat kecil dari kejauhan.

Bagaimana mungkin langit tak bersinar meski bukan hanya bulan yang selalu di tunggu, sementara sinar bintang yang terus bergantian hadir mencoba menyapa langit tak bersuara. Seseorang bahkan tak mampu mendera rintik kristal yang jatuh ke dasar cahaya yang lebih jauh lagi kala malam. Hembusan angin yang perlahan membuat awan bergerak menyelimuti bulan, hanya terasa sejuk tak berbau. perlahan - lahan mendung, hingga akhirnya rintik kristal itu berubah menjadi butir hujan yang terus berjatuhan, nampak indah bergabung dengan ribuan cahaya lampu. Bulan masih nampak terlihat besinar walau begitu redup dari balik awan, namun keindahannya yang menjadi selimut isi dunia tak akan berhenti dan hilang hanya untuk membuat kau tersenyum.

0 komentar:

Post a Comment