Waktu lalu, saat ketidak sengajaan melihat,
memperhatikan, bahkan hingga mengenalmu, aku tak berniat menjadi bagian dari
hidup mu yang tak ku tahu dengan pasti apa dan mengapa ada orang sepertimu di
fikiranku. Hingga saat aku berencana untuk
bersembunyi jauh dan menghilang tanpa jejak agar tidak kau ketahui lagi. Semenjak
itu aku tidak berani berharap jauh, karena sesuatu yang lain akan membawamu
mengitari awan, mengubah warna pelangi yang indah di tempat yang tinggi tanpa
cerita kelam mu.
Saat itu
angin berhembus merdu, menghanyutkan dari lamunan panjang yang tiba – tiba
kembali mengingatkanku kepadamu. Entah bertanda apa? Seakan aku merindukan
matamu yang menyajikan ku warna pelangi yang telah lama tak ku lihat. Aku
berbisik kepada angin, mencoba berbicara dengan isyarat, mencoba memberi tahu
hatiku. Tapi tak di dengar. Ia hanya memelukku dalam damai, mengajakku bicara
dengan pelukan.
Aku
ingin kau tahu, perasaanku. Melewati semua tanpamu disini. Kadang aku menyesal,
merasa hampa, membiarkan pelangi pergi meninggalkan ku sendiri. Meski aku
merasa sedih, tapi ku tahu kau sedang bahagia. Sunyi, tolong kau pergi. Jangan
kembali.
Ingin
rasanya aku dengar suaramu, hanya tuk sekedar redakan rinduku. Bisakah sejenak
saja, kau hadir di hadapanku, biarkan aku melihat pelangi indah itu, melihat
terangnya cahaya dari sorot matamu lagi, mungkin untuk sesaat, mungkin hanya
sebentar saja. Melihat semua keindahan yang sempat pergi. Bahkan belum sempat
aku menyentuhnya untuk merasakan hangatnya sinar yang kau pancarkan. Seindah
pelangi saat hujan reda, memberi banyak cerita yang tertulis rapi di atas
kertas usang dalam peti rahasiaku.
0 komentar:
Post a Comment