"Gini ya rasanya?"
Seolah tak ingin menerima takdir yang sudah terlanjur, aku sibuk menyalahkan "rasa" yang menurutku lebih banyak tidak enaknya di banding "rasa" yang dulu se-enaknya.
Entahlah, bahkan desah nafas panjang yang berulang-ulang ku hembus juga tidak puas menjawab pertanyaan itu sendiri.
Kadang pertanyaan itu sudah terjawab, hanya saja hatiku belum bisa menerima.
"Mengapa terjadi?"
"Harus bagaimana?"
"Salah siapa?"
Sebenarnya, banyak keinginan yang belum kesampaian. Apa mungkin keinginan itu terlalu mustahil untuk bisa terwujud. Atau, Ekspetasiku tentang angan itu terlalu tinggi.
Sebagai seseorang yang sudah rela pergi dari kehidupan lamanya. Anggap saja itu sekedar angan - angan, bisa juga di bilang cita - cita yang agak mustahil sekali bisa terwujud. Cita - cita dan angan - angan itu beda tipis kan ya?
Alih - alih suka menulis kisah kehidupan sendiri, aku lebih terlihat seperti seseorang yang butuh teman ngobrol dari dekat. Teman di segala keadaan yang bisa melepaskan hiruk - pikuk beban pikiran.
Memang, manusia itu di buat pusing karna perasaanya sendiri, hatinya yang sebagian rumit tak bisa di jelaskan, sibuk menahan semuanya dari dalam.
Hangatnya selimut tak sehangat pelukan rindu dari seseorang. Selimut memang memberi rasa hangat dari dinginnya malam, tapi tak banyak kehangatan yang ku dapat dari selimut itu.
Aku selalu merindukan kehangatan itu. Kehangatan yang sudah lama sekali tak kunjung datang.
Benarkah hidup ini sudah ada takdirnya masing - masing?
Seseorang terlahir sudah dengan takdirnya? Apapun keadaannya sekarang sudah pasti itu suratan takdir yang tak bisa lagi di ubah?
Kalau memang begitu? Apakah merindukan seseorang yang bukan sebagai takdir itu salah?
Kalau memang benar begitu, haruskah berhenti untuk marasa rindu pada sesuatu yang tak pernah bisa datang menghampiri, mewujudkan rindu itu?
Barangkali ada saatnya yang ku namai rindu itu hilang begitu saja?
Siapkah jika tak lagi berangan - angan tentangnya? Tentang harapan yang sejak lama tertanam. Bertahun - tahun disiram agar tak tiba - tiba mati begitu saja. Selama ini sabar tak berbuah hasil. Selama ini sia - sia mengharap tumbuh menjadi sesuatu itu. Ia cuma mampu bertahan jika di siram terus menerus dengan kasih sayang, dengan harapan.
"Sesekali pergilah, jangan perdulikan sekalipun itu membuatnya layu. Bahkan kalau ia mati, kau tak perlu menyesali buah sabarmu. Biarkan saja!
Bangun dari tempat tidurmu. Beranjak dari situ agar kau bisa meluapkan sabarmu atas apa yang selama ini sudah berhasil kau tahan.
"Lepaskan saja!"
Tak apa, tak ada yang tahu kalau sesungguhnya hatimupun semakin lama semakin layu. Semakin kau siram kau-pun tak ingin terus hidup. Seperti hanya menjaganya, menjaga harapan yang di buat hidup. Selama itupunlah kau tak akan pernah bisa bangun.
Lekas bangun!
Mari sejenak sembuh dari perihnya luka sabar. Mari berdamai dengan kenyataan yang ada sekarang. Mungkin besok, atau besok - besok lagi kenyataan akan berpihak, jadi selama itu kau bisa menyatukan kembali sabarmu pelan - pelan. Tak usah terlalu berharap. Cukup jika kau melihat kenyataan itu hatimu tetap utuh. Tetap menerima kalau selama ini kau bisa "sabar"."
0 komentar:
Post a Comment