Bab ini; adalah awal dari sekian lama aku menghilang dan sempat melupakan. Sudah lama dalam waktu yang sangat panjang. Berkali kali lari dari kenyataan. Seseorang yang tak kutemui puluhan tahun. Setelah akhirnya akupun hidup di hitungan tahun seterusnya.
Dari buku "Catatan Kriuk untuk si single", mungkin aku termasuk kategori Single Depressive: Ini tipe single yang paling berbahaya dan biasanya orang dengan tipe seperti ini adalah seseorang yang dulunya sempat berpacaran tetapi memutuskan untuk single karena ada trauma dengan mantan. Akibatnya cenderung tidak mempunyai pandangan ke arah masa depan, pesimis (beranggapan bahwa sulit menemukan seseorang yang tepat), dan merasa kalau dirinya tidak berguna.
Iya, mungkin itu salah satu alasan mengapa aku sudah lama mengubur rasa yang sebenarnya ingin ku cari kepada siapa?
Tidak mudah menulis keresahan agar orang lain tidak ikut tahu. Tapi alasan ku menulis adalah saat aku tahu mengapa tuhan menciptakan orang sepertimu, dan kembali di pertemukan ke hadapanku.
Ketika tidak sengaja bertemu dengan seseorang lewat media sosial, satu hal yang tidak perlu ku khawatirkan padamu; bukan perkenalan dengan ajakan pertemuan lalu menghilang, kasus itu yang dulu ramai di perbincangkan media dengan berita kehilangan.
Ketika tidak sengaja merasa berpapasan dengan seseorang yang membuat jantung berdegup kencang, napas tersengal-sengal, dan dada terasa sesak, maka disitulah aku berjuang keras untuk membersihkan segala atribut yang melekat bersama diri dan status single tak beraturan. Jangan kan memandang, aku pun belum tahu apa kau sekedar hidup di sebelah sana.
Aku sedang menetralisir hati senatural mungkin, agar tak ada kesalah pahaman yang sebenarnya ingin ku salahkan. Dengan lancang mengakui kebenaran yang belum meyakinkanmu.
Bagaimana pendapatmu?
Tidakkah kau anggap aku biasa saja. Seperti orang yang belum pernah bertemu sekalipun.
Sifat khas yang kau miliki; selalu ingin penjelaskan dari maksud yang sudah kau mengerti. Kau ingin tahu? atau sekedar ingin membaca semua alasanku. Sebuah alasan yang sudah ku jelaskan dengan hati nurani, tak hanya ku cerna dengan logika.
Pembicaraan kita semakin riuh, kau yang sibuk mengamankan pertanyaanku, dan aku sibuk dengan jawaban yang masih jadi angan - angan.
Angin gerah sudah menganak di punggungku. Aku mencari kalimat sepsesifik mungkin agar kau mengerti perkataanku, agar kau mengerti bagaimana memahami wanita sepertiku.
Tadinya aku sudah menduga, saat aku jujur denganmu akan ada pertanyaan yang bertubi - tubi datang kepadaku. Mirisnya aku yang sdah terlanjur mengakui perasaanku.
Aku bisa saja memberontak atau menolak untuk mengatakan semua hal tadi kepadamu, tidak lagi ingin menentang perasaanku. Namun, bagaimanapun, aku hanya berusaha meluruskan kekeliruan yang menyimpang di dalam hatiku. Ketahuilah, tidak ada hari yang sial ataupun buruk mengenalmu, malah sebaliknya, kau berhasil memberi warna lain dari warna yang pernah ada di hidupku.
Aku hanya melengkungkan senyuman manis di depan bayangmu, jariku mengetik satu demi satu keyboard gedget untuk membalas pesan dari mu.
Media sosial yang membatasi cerita kita setiap hari, ujian dari media sosial mengakibatkan rindu memburuk, ambisi yang menggebu-gebu, ku fikir hanya sedang tidak sabar, kalau nanti nyatanya kau melihatku tak sesuai harapanmu. Keluar dari enyataanmu yang membayangkan aku seperti apa.
Kali ini aku pasrah, di tinju dengan dengan pertanyaan membosankan; mengapa aku menyukaimu. Seperti ada cairan oli yang melumas hatiku untuk tetap tenang menghadapimu.
Aku sudah lebih baik dari pada aku belum bisa jujur kepadamu. Wajar bila kau terus menanyakan perihal sayang kepadaku, mungkin itu bagian hal menjenuhkan yang membuat keningku berlapis kerutan. Sudahlah, itu memang salah satu konsekuesi dari sebuah kejujuran yang menolak ku jelaskan.
Selain itu yang harus ku ingat, aku hanya akan terus menulis, ketika aku memutuskan untuk punya perasaan sedikit lebih dari teman kepadamu.
Yang keliru adalah, ketika aku mencoba jujur dengan mu dan beropini bisa menenukanmu sebagai teman dalam hidupku. Tapi tenanglah, aku cepat-cepat keluar dari mimpi, ku gubris semua ketidak nyataan yang belum bisa ku genggam dari dekat.
Dari seluruh hari di dunia ini; Suatu hari aku ingin menghilang bersamamu meski cuma setengah hari sekedar memperhatikanmu, tanpa suara lain selain suara perut yang sedang lapar. Kita bisa menggila bahkan menghilang jika kau menginginkannya. Kita butuh ketenangan sejenak untuk merasakan kehadiran masing - masing. Lebih baik ku tuliskan pesan tak bernada namun tersyai. Lengkap bila kau balas pesan yang tersirat rapi di atas surat yang tak bernyawa ini.
Tetaplah dengan mu yang seperti ini, sekalipun kau sedang bosan denganku. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan bersikap seperti apa. Namun, dari minggu pertama hingga minggu - minggu seterusnya, aku terus menjadikanmu sebagai alasan paling bahagia dalam hidup. Syukurlah kita di pertemukan, jika bukan karenamu, aku bukan orang yang kembali membuat alasan untuk tetap bertahan dari semua kesakitan.
Note: "Selalu ada alasan memikirkan hal yang tak lain adalah semangat baru, karena~mu"
0 komentar:
Post a Comment