Tuesday, November 14, 2017

Bagimu, aku ini apa?

1

~Kita hanya sebatas itu?~

Itu apa (...) ?
Iya itu.
Itu?
Itu deh, titik!

Sebenarnya...
Aku tak pernah membayangkan ini sebelumnya.
Bahwa jatuh dan cinta kepadamu adalah hal yang menyakitkan. Sesakit harapan yang tumbuh di benakku.

Tapi...
Kalau kau masih disini bagaimana aku bisa melupakan mu? Bagaimana caraku melupakan semuanya? Bahwa aku pernah kau jadikan istimewa, pernah menjadi bagian bahagia di hidupmu, sampai sekarang ini.
Bahwa kita pernah membicarakan masa-masa kita bertemu beberapa waktu lalu; bersama mendaki gunung adalah hobi baruku, sekedar nonton bioskop denganmu rutinitas baruku, makan bersamamu adalah kewajaran saat aku mulai lapar, tertawa bersamamu membuang kegelisahan, menangis bersamamu bagian lain dari cara mendekatkan. Bagaimana aku melupakan panggilan sayang mu untukku? Bagaimana aku bisa melupakanmu kalau setiap hari kau tak pernah tak hadir dalam story ku.
Apa kau punya cara lain untuk tidak menggangguku dari sapaan-sapaan lumrah; "Kamu lagi apa?", "Udah sampai rumah belum?", atau "Makasih yah udah nemenin aku".
Kau bertanya; apa aku masih sanggup untuk melewati ini semua?
Iya tahu aku sanggup melewatinya, tapi aku tak tahu seberapa sanggup aku melewati hatimu yang sudah kau tujukan untuknya.

Bagiku pengharapan tidak semesta datang. Ia lahir bersama banyak cerita yang sudah sepekan kita lewati. Kau paham?

Aku ini Perempuan. Seperempat dari perasaan perempuanmu itu aku tahu, sama seperti perasaanku.
Tak apa jika kau masih ingin menunggu dia. Bukankah semua nya sudah jelas. Namamu di salah satu akun miliknya, begitupun sebaliknya. Kau dan dia bagai burung yang sama-sama pergi jauh tapi tahu kapan saatnya kembali menyatu.

Bukankah aku punya hak berhenti dari harapan yang menyiksa ini? Bukankah kau terlalu sayang, akupun mampu menjadi seperti kamu jika bukan kamu orang yang aku harapkan. 
Sekarang, aku mulai benci dengan perkenalan kita, benci dengan keadaan yang semakin dekat, tak lain hanya mendekatkanku dengan ketidak mungkinan.
Aku juga bisa mengubur harapan, seperti kamu yang menghiburku dengan harapan yg tak secepat perasaanku datang. Bagimu, sabar adalah perihal jarak yang sedang terpisah setelah perihnya kebenaran atas namamu. Tapi disisi lain, ada hal yang lebih penting dari pada aku yang membuatmu tetap bertahan tanpa ingin meninggalkan.
Aku pelengkap kesibukan di hari-harimu, sebagai momen yang kesannya berbeda dari yang pernah kau rasakan sebelum denganku.

Kamu ini apa?
Kamu tidak pernah merasa membuat kesalahan dengan perempuan manapun? Dengan dua perempuan sekaligus? Padahal kamu pun manusia. Ada saat kamu mengakui kesalahan. 
Kamu malah merasa dia hanya sedang memperbaiki hatinya untuk seperti dulu lagi. Kau tidak bisa memberiku alasan untuk diam-diam pergi.

Kau tak perlu seperti itu. Aku sudah cukup usia untuk sadar sebatas mana kedewasaan dalam sebuah pengharapan. Dan kamu harus tahu, meski bukan aku yang menjadi bagian utuh dari hatimu nanti. Aku tidak pernah menyesali pernah berada didekatmu, tahu perihnya hatimu tertinggal jauh, dan kita pernah membubuhkan satu harapan yang sama. Ku pastikan kamu akan tetap tahu rasanya ku perdulikan. 
Tak perlu repot - repot menjaga hatiku yang sedang rapuh.
Jadi, jika saja nanti kamu akan merasa sudah kehilangannya, kamu-pun merasa bagaimana sudah kehilangan ku. 

Aku ingin terus dilihat sebagai wanita yang biasa kau lihat dihari - harinya, punya senyum sempurna walau sejatinya aku tak pernah bisa, tapi aku ingin menjadi perempuan yang bisa melakukan apa saja, yang akan membuatmu kagum sekaligus menyesal nantinya.
Kurasa benar, aku telah jatuh cinta sebegitu dalamnya. Karena, Bukankah itu tidak masuk akal untuk menganggap kenyataan diantara kau dan dia adalah rasa cemburu yang berlebihan.
Tenang saja, aku tahu kapan dan kemana aku akan mundur dari ketidak pastian perasaan yang kau beri untukku.







1 comment: