Sunday, June 7, 2015

Cahaya

0

Terimakasih untuk satu hari lagi yang kau beri. Aku dengan begitu leluasa dapat menghirup udara sejukmu di pagi ini. Atas kuasamu yang masih memberikan ku begitu banyak keindahan dunia yang masih dapat ku lihat dengan mata indah ini. Seperti layaknya sebuah hati yang selalu berharap bahagia.

Dengan rangkaian takdir yang allah berikan. Menulis, karenanya menjadi penambah bekal sebagai amal kebaikan yang coba ku tulis dalam kebaikan, dan amal jariyah, tambahan kebaikan jika sewaktu – waktu akan menghadap – Nya.

Cinta memang rahmat – Nya (Allah) yang paling besar bagi manusia. Ketika kita mau sungguh – sungguh merasakannya, dia menjadi energi hidup yang luar biasa. Cinta memang tidak bisa merubah dunia, tapi bukan berarti dunia bisa merubahku menjadi sesuatu yang buruk dan tiba – tiba menemukan jalan buntu saat aku tak melihat cahaya ada di hari – hariku.

Apa yang di anggap sederhana seringkali meiliki makna yang tidak sederhana. Tersenyum misalnya. Bagi sebagian manusia, senyum adalah hal biasa sebagai sesuatu yang bisa saja. Namun bagiku, senyum itu adalah obat dari segala rasa. Mampu mengobati semua duka, bahkan saat aku kecewa karna mimpi.  Karena dengan tersenyum satu beban masalah dalam hidup akan terasa lebih ringan.

Ada filosofi dalam yang tercampur di setiap senyum. Melihat senyum tidak akan lagi biasa jika kita memakai keilhklasan didalamnya. Tidak akan lagi suram ketika cahaya hati meneranginya. Mata akan bermakna saat bibir tak mampu bicara.

Aku bermimpi menuliskan buku cerita pertamaku sejak kamu terus menjadi dan memberi semangat setiap hari. Merasa mimpiku semakin dekat, hari ini aku juga bermimpi, bermimpi selamanya bisa menulis cerita, tentang kita, aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama perjalananmu. Karna bersamamu, aku tidak takut, tidak takut lagi untuk menjadi pemimpi. Karena hanya dengan mu segala sesuatu itu ada. Karena dengan alam mu aku merasa bebas, bebas untuk menempatkan hatiku dalam jiwamu.

Perlahan menata hati, ku biarkan rasa ini mengalir sendiri, kemana arah angin akan kembali dan memberiku satu janji dimana aku akan hidup bersama cahaya-Nya di jalan Mentari. “Assalamualaikum pagi, terima kasih untuk satu hari lagi di setiap satu hari yang terus ku sambut di setiap pagi”.

0 komentar:

Post a Comment