Suaramu,
merdu, semerdu alunan musik klasik. Nafasmu, lembut, selembut kecupan
bibirmu di kening kecilku. Ragamu indah, seindah tuhan menciptakanmu di
dihidupku. Dan kau ada di antara milyaran manusia, dan ku bisa menemukanmu
bersama ku disini. Aku sedang bingung. Kenapa? Apa yang menjadi landasan untuk
ku merindukan mu, ragamu yang tak bisa ku sentuh karna kau jauh, yang tak bisa ku
lihat dengan luas. Aku hanya mendapati gambar mati di layar ponselku untuk
terus melihatmu setiap malam sebelum ku tertidur, dan bangun ketika pagi menyapaku.
Aku
bagai bulan yang tak mepunyai teman, meski banyak bintang yang
mengelilingiku, dan langit yang setia menjagaku. Tapi kenyataannya, aku sendiri. Aku tak tahu bagaimana membuang
jauh pikiran ini. namun ketahuilah, aku tak pernah merasakan bias rindu yang
menggelora saat semua hal mengingatkan tentangmu. Tentang caramu mencuri hatiku
yang hampa. Tanpa sadar aku kerap kali tersenyum karenamu, hanya karna kau
selalu memberi ku ucapan selamat pagi dan selamat tidur di setiap hariku.
Terdengar
lucu memang ketika bibirku menyimpulkan nama mu yang ku sebut pelan, namun
jelas di dalam hatiku. Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan padamu. Apalagi
ketika aku berhadapan langsung di depanmu. Aku juga tidak tahu, reaksi dan
tingkah apa jadinya nanti ketika matamu tak hentinya melihat pipi cabiku terus
memerah karnamu. Ternyata, apa yang aku siapkan sama sekali tidak berguna di
hadapanmu saat itu. Dibutuhkan keberanian otodidak saat itu juga.
Aku
tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpamu saat aku tersenyum pasrah di
hadapanmu. Mungkinkah bulan akan tiba – tiba terbit di siang hari, atau bahkan
bulan tak akan terang seterang matahari ketika gerhana terjadi. Aku terlalu
jauh menyadari, hingga akhirnya saat kau ada, aku pun merasakan hal yang sama
denganmu. Andai aku sampai di puncak yang paling tinggi, satu hal yang akan ku
sebut bersama awan yang disaat itu setia mengelilinginya, "Langit, Aku ingin bersamanya setiap saat".
0 komentar:
Post a Comment