Peluklah maafku, sayang. Dalam puisi yang
selalu menginginkan kau pulang. Kepadaku saja. Ketika jarak ada di antara rindu
yang utuh, cinta itu semakin kuat saja, menyelinap di dalam sanubari. Meski
kadang lelah dan ingin berhenti sampai disini, hati kecil selalu berkata
“Sebatas inikah”, yah, kalut memang saat merasakan hampanya rasa yang terkadang
tak tersampaikan dengan baik. Andai saja waktu mampu ku putar, akan ku biarkan
kau kembali berjuang, bukan karena aku tak sanggup menerimamu, hanya saja hati
ini semakin hampa saat aku berjuang sendirian tanpa mu yang mengingatku lagi.
Aku pernah berfikir untuk tidak kembali
padamu, karena aku takut pada kangkangan bisumu. Ada atau tidak, itulah
pertanyaan yang selalu aku pertanyakan jika kelak kau kembali lagi pada jalan
itu, yang membawamu jauh pada dirimu yang mengenalku. Bagi jiwa yang kalut, ini
benar – benar percuma, yang membiarkannya dingin. Sampai tak ada lagi cinta
yang mati dan tertidur, dan. Di penghujung tidur, adalah sakit hati dan ribuan
guncangan.
Mendekatlah sayang, kan ku bawa kau ke
tempat dimana kau bisa merasakan rasa yang masih kau cari di kehidupan lama mu,
di cerita lama mu, yang sesaat masih melintas di kepalamu. Kita berjalan
menaiki bukit – bukit terjal, melintasi jalan yang penuh semak, melewati
posko-posko saat lelah terasa mencekat tubuh, sedikit lagi, dan kita akan sampai
pada tempat terindah bersama alam yang akan menyaksikannya. Kita menikmati
semua itu. Dan aku berhasil melihat kau bahagia di dalamnya. Aku pun tersenyum melihatmu.
0 komentar:
Post a Comment