Wednesday, April 22, 2015

Come back dear

0

Peluklah maafku, sayang. Dalam puisi yang selalu menginginkan kau pulang. Kepadaku saja. Ketika jarak ada di antara rindu yang utuh, cinta itu semakin kuat saja, menyelinap di dalam sanubari. Meski kadang lelah dan ingin berhenti sampai disini, hati kecil selalu berkata “Sebatas inikah”, yah, kalut memang saat merasakan hampanya rasa yang terkadang tak tersampaikan dengan baik. Andai saja waktu mampu ku putar, akan ku biarkan kau kembali berjuang, bukan karena aku tak sanggup menerimamu, hanya saja hati ini semakin hampa saat aku berjuang sendirian tanpa mu yang mengingatku lagi.

Aku pernah berfikir untuk tidak kembali padamu, karena aku takut pada kangkangan bisumu. Ada atau tidak, itulah pertanyaan yang selalu aku pertanyakan jika kelak kau kembali lagi pada jalan itu, yang membawamu jauh pada dirimu yang mengenalku. Bagi jiwa yang kalut, ini benar – benar percuma, yang membiarkannya dingin. Sampai tak ada lagi cinta yang mati dan tertidur, dan. Di penghujung tidur, adalah sakit hati dan ribuan guncangan.


Mendekatlah sayang, kan ku bawa kau ke tempat dimana kau bisa merasakan rasa yang masih kau cari di kehidupan lama mu, di cerita lama mu, yang sesaat masih melintas di kepalamu. Kita berjalan menaiki bukit – bukit terjal, melintasi jalan yang penuh semak, melewati posko-posko saat lelah terasa mencekat tubuh, sedikit lagi, dan kita akan sampai pada tempat terindah bersama alam yang akan menyaksikannya. Kita menikmati semua itu. Dan aku berhasil melihat kau bahagia di dalamnya. Aku pun tersenyum melihatmu.

0 komentar:

Post a Comment