Wednesday, June 10, 2015

Tersimpan Rapi

0

Salah satu cara tuhan memberi anugerah ialah, ketika melihat dan merasakan matahari pagi dari kejauhan. Menabur senyum indah yang nampak begitu hangat dengan sinarnya yang cantik. Senyawa, hadir dan membuat nafasku mendesah segar. Menambah keindahan yang semakin hari ku rasakan bersama suaramu yang ku kenang di setiap irama nya. Merdu.

Hariku pernah kelam, kalut, pernah sempat tak berwarna saat pagi tak menyapaku. Namun itu hanyalah bising, menjerat kesepian yang setia menemaniku. Aku  bermain, bermain bersama udara disetiap detiknya, setiap menit, setip jam, hingga setiap hari yang ku lalui hanya dengan suara bising yang tak ingin sekali ku dengar. Aku tersenyum di tengah kebisingan orang yang terus menyebut dirinya bahagia.

Seperti kemarin, pagi ini aku terbangun dan menemukan kepingan rindu dari sisi perbaringan. Kau mengejutkanku dengan hanya tersenyum dan sapaan yang nyaris sama disetiap paginya. Selamat pagi sayang. Katamu. Apa aku berani terluka? Bila saja senyum itu tak ku lihat lagi, bila saja sinar pagi tak menyapa? Tidak. Mungkin saja semua yang kau inginkan tak ada pada bunga tidur yang terus kau sanjung dalam mimpi  untuk terus melihat pagi. Mungkin pagi tak seindah cahayamu yang terus terlihat indah saat kau tiba – tiba didekap embun dan merasakan kehangatan diantara sinarmu untuk sekedar menerangi pagi.

Harapan itu akan ada. Aku masih beranjak bangun dari mimpi panjang, dan lekas berdiri untuk menyambut sinar yang hadir setiap pagi. Beranjak pada nafas yang mendekapku erat, membuatku nyaman. Aku tak ingin sedetikpun melewatkan itu semua. Aku lebih memilih terus mendekapnya erat dan bedoa, “Jangan biarkan sinarku pergi”.

0 komentar:

Post a Comment