Salah satu
cara tuhan memberi anugerah ialah, ketika melihat dan merasakan matahari pagi
dari kejauhan. Menabur senyum indah yang nampak begitu hangat dengan sinarnya
yang cantik. Senyawa, hadir dan membuat nafasku mendesah segar. Menambah
keindahan yang semakin hari ku rasakan bersama suaramu yang ku kenang di setiap
irama nya. Merdu.
Hariku
pernah kelam, kalut, pernah sempat tak berwarna saat pagi tak menyapaku. Namun
itu hanyalah bising, menjerat kesepian yang setia menemaniku. Aku bermain, bermain bersama udara disetiap
detiknya, setiap menit, setip jam, hingga setiap hari yang ku lalui hanya
dengan suara bising yang tak ingin sekali ku dengar. Aku tersenyum di tengah
kebisingan orang yang terus menyebut dirinya bahagia.
Seperti
kemarin, pagi ini aku terbangun dan menemukan kepingan rindu dari sisi
perbaringan. Kau mengejutkanku dengan hanya tersenyum dan sapaan yang nyaris
sama disetiap paginya. Selamat pagi
sayang. Katamu. Apa aku berani terluka? Bila saja senyum itu tak ku lihat
lagi, bila saja sinar pagi tak menyapa? Tidak. Mungkin saja semua yang kau inginkan
tak ada pada bunga tidur yang terus kau sanjung dalam mimpi untuk terus melihat pagi. Mungkin pagi tak
seindah cahayamu yang terus terlihat indah saat kau tiba – tiba didekap embun
dan merasakan kehangatan diantara sinarmu untuk sekedar menerangi pagi.
Harapan itu
akan ada. Aku masih beranjak bangun dari mimpi panjang, dan lekas berdiri untuk
menyambut sinar yang hadir setiap pagi. Beranjak pada nafas yang mendekapku
erat, membuatku nyaman. Aku tak ingin sedetikpun melewatkan itu semua. Aku
lebih memilih terus mendekapnya erat dan bedoa, “Jangan biarkan sinarku pergi”.
0 komentar:
Post a Comment